Monday, September 16, 2013

[Fanfiction] 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty) — Chapter 3

*Title: 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty)

Genre: Romance, Fantasy, (kinda of) School-life

Rate: PG-14

Cast:
-EXO members                                                         -etc.
-Original Characters

Disclaimer: I do not own any casts—except original characters. Plot is inspirated by EXO's '늑대와 미녀 (Wolf)' and (maybe) Stephenie Meyer's 'Twilight'.

Status: On-going

Chapter: 3/? (Growl — The Accident and The Stares)

Language: Indonesian

============================================================




Forewords here Previous chapter 1 2


*************


-Malam yang cerah di pertengahan bulan September....-

Heerin sedang berada di rumahnya, sendirian. Ayahnya–seperti biasa–sedang di luar rumah, mengurusi kasus-kasus yang terjadi di kota tempat mereka tinggal.

Saat ini gadis bermarga Shin itu tengah menonton acara televisi sembari memakan kue coklat kesukaannya. Keadaan begitu menenangkan, sampai akhirnya.....

AUWOOOOOOO!!!!!!!!

Terdengarlah suara auman serigala dari dalam hutan. Heerin yang mendengar itu jai bergudik ngeri sendiri.

"Mungkin karena baru kali ini aku mendengar suara auman serigala, makanya aku agak ngeri sendiri mendengarnya," gumam Heerin pelan.

Tiba-tiba ia merasa tenggorokannya kering. Mungkin karena terlalu banyak tertawa akibat menonton acara televisi yang lucu tadi. Heerin beranjak dari sofa yang sedari tadi ia duduki kemudian berjalan menuju dapur untuk minum.

Sesampainya di dapur, Heerin segera mengambil gelas dari rak setelah sebelumnya ia membuka setengah jendela yang ada di dapur itu untuk mendapatkan udara segar dari luar. Ia mengambil air putih dari kulkas kemudian menuangkannya di dalam gelas bening yang diambilnya tadi. Lalu gadis berambut pendek itu meminum gelasnya.

KRASAK!

Tiba-tiba terdengar suara daun terinjak dengan nyaring dari luar–Heerin tengah berdiri di dekat jendela, makanya ia bisa mendengar suara itu. Refleks Heerin langsung membuka jendela.

"Nuguseyo?" tanya Heerin agak hati-hati.

Tak ada yang merespon.

Heerin menghela nafasnya lega. Sepertinya aku memang harus mengurangi ke-paranoid-anku ini, batinnya. Ia langsung meminum air putihnya sampai habis, kemudian pergi kembali ke ruang tengah setelah tidak lupa mencuci gelas yang ia pakai untuk minum tadi.

Tanpa Heerin sadari, sepasang mata tengah menatapnya dari dalam hutan.



************* 


Keesokan harinya, di Neukda University.....

Heerin sedang berada di taman kampusnya, dan ia berjalan menuju gedung fakultasnya. Tanpa sengaja pandangannya yang tadinya tertuju ke depan beralih ke arah baratnya, dimana Heerin dapat menemukan para EXO yang sedang duduk di atas rumput beralaskan tanah itu. Tentu saja ada Suho disana.

"Heerin-ah!" panggil sebuah suara dari belakang Heerin yang membuat gadis berkacamata itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Didapatinya sosok Songeul yang tengah berlari kecil menghampiri Heerin.

"Annyeong, Songeul-ah. Tumben kau sendiri. Biasanya kau selalu bersama Minhae," ucap Heerin saat Songeul sudah ada di sampingnya dalam keadaan ngos-ngosan. Kemudian mereka berdua pun berjalan bersama menuju kelas mereka–dimana gedung fakultas mereka bersebelahan.

"Aku agak kesiangan sedikit tadi pagi hehehehe," jelas Songeul yang diakhiri tawa kecil di akhir kalimatnya.

"Memangnya kelasmu mulai jam berapa?" tanya Heerin.

"Jam 8 lewat 15 menit," jawan Songeul. Heerin melirik arlojinya. Waktu menunjukkan pukul setengah 8 lewat 7 menit. Setidaknya Songeul tidak terlalu kesiangan–apalagi rumahnya menuju kampus tidak bisa dikatakan berjarak dekat.

"Oh iya. Heerin-ah. Apa kau mendengarnya tadi malam?" tanya Songeul yang membuat Heerin mengernyitkan dahinya bingung. Mendengarnya? Mendengar apa? tanya Heerin dalam hati.

"Maksudmu apa, Songeul-ah? Aku tidak mengerti maksud perkataanmu," jawab Heerin jujur. Mendengar itu langsung membuat Songeul menepuk keningnya pelan.

"Aish! Bagaimana bisa aku lupa kalau kau baru 1 bulan tinggal disini? Lagipula kau 'kan masih baru disini," ujar Songeul yang membuat Heerin makin heran dan juga penasaran.

"Maksudmu apa sih sebenarn---" Heerin terdiam sejenak. Tadi Songeul menanyakan soal 'mendengar sesuatu' bukan? Apakah......... ini ada kaitannya dengan itu?

"Ya, Songeul-ah," panggil Heerin.

"Ne, Heerin-ah?" tanya Songeul yang langsung menoleh kearah Heerin. (Ingat, mereka berdua masih dalam keadaan berjalan saat berbicara seperti ini)

"Apa kau sedang membicarakan suara seri---"

DUK!

BRUGH!

Perkataan Heerin langsung terpotong di saat terdengar suara sesuatu yang bertabrakkan dan akhirnya terjatuh.

Ternyata itu adalah Songeul yang terjatuh setelah secara tidak sengaja bertabrakkan dengan seseorang yang berjalan dari arah kanannya–Heerin berada di sebelah kiri Songeul.

"Aauww...... Appoyo......" rintihnya. Heerin berniat ingin membantu Songeul berdiri, namun melihat siapa yang menabrak Songeul sampai terjatuh dan orang itu ingin membantu Songeul berdiri Heerin langsung diam.

"Agasshi, neo gwaenchana?" tanya orang yang berstatuskan penabrak Songeul itu sembari mengulurkan tangannya kepada Songeul. Tentu saja Songeul menyambut uluran tangan itu, kemudian ia berdiri dengan bantuan dari uluran tangan itu.

"Ne. Na gwaencha---"

Ucapan Songeul langsung terhenti kala ia melihat wajah orang yang menabraknya tadi.



Ya....



Orang itu adalah.......



"Agasshigwaenchana?" tanya orang–tepatnya pemuda itu dengan nada agak khawatir karena tiba-tiba Songeul terdiam di tempat.

Sementara itu Heerin yang sedari tadi hanya menjadi saksi dalam diam memutar bola matanya bosan. Dengan suara yang sengaja dikeraskan, Heerin memanggil Songeul dari lamunannya. "Ya! Lee Songeul! D.O-sshi sedang bertanya padamu!"

Songeul pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia mengedipkan matanya berkali-kali, kemudian menatap D.O yang tengah menatapnya (masih) dengan agak khawatir.

"Kau tidak apa-apa 'kan, Songeul-sshi?" tanya D.O lagi.

Songeul sempat kaget bagaimana bisa D.O tahu namanya. Namun ia ingat kalau tadi Heerin sempat memanggil namanya–dan pastinya D.O mendengarnya.

"A-ah........n-na gwaen......ch-chana........" jawab Songeul terbata-bata. D.O tersenyum mendengar jawaban yang keluar dari bibir Songeul. Songeul yang melihat senyum itu langsung terperangah, lain lagi dengan Heerin yang masih berpikir kalau raut wajah D.O itu memiliki makna yang ambigu. Atau mungkin hanya perasaannya saja.

"Lain kali hati-hati kalau berjalan, ne?" kata D.O yang sukses membuat Songeul menunduk malu. Memang benar tadi ia tidak sempat melihat kalau ada D.O yang tengah berjalan kearahnya, dan Songeul tidak melihat karena ia sedang menoleh ke arah Heerin yang tengah berbicara kepadanya.

Jadi siapa yang salah disini sebenarnya?

"Kalau begitu aku duluan ya, yeorobunAnnyeong~" setelah berpamitan kepada kedua gadis itu–mungkin lebih kepada Songeul, D.O langsung berjalan menuju kelasnya. Meninggalkan Heerin dan Songeul–yang kembali mematung di tempatnya berpijak.

"Dia ramah juga. Walau aku masih agak meragukannya. Iya kan, Songeul-ah?" tanya Heerin. Ia menoleh kearah Songeul yang menatap D.O dari kejauhan dalam diam, membuat Heerin menghela nafasnya.

"Songeul-ah! Heerin-ah!" panggil sebuah suara. Heerin menoleh ke arah sumber suara–Songeul masih diam di tempatnya. Gadis bermarga Shin itu mendapati Minhae yang tengah menghampiri mereka.

"Oh. Annyeong, Minhae-eonni," sapa Heerin ramah. Minhae menatap Heerin agak tajam. "Panggil saja aku tanpa embel-embel 'eonni', Heerin-ah. Kita ini seangkatan," ucap Minhae. Tampaknya ia tidak terlalu menyukai dianggap tua.

Heerin tertawa kecil sebelum berkata, "Arasseo, Minhae." Minhae tersenyum, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Songeul. "Songeul-ah, aku mencarimu daritadi. Ternyata kau bersama Heer--- eh? Songeul-ah? Gwaenchana?" panggil Minhae saat menyadari teman satu jurusannya itu diam bagaikan patung.

"Heerin-ah, Songeul kenapa?" tanya Minhae sambil menunjuk Songeul kepada Heerin. Gadis berambut pendek itu menjawab, "Tadi saat kami berdua jalan, secara tidak sengaja ia bertabrakkan dengan sang pujaan hati yang bernama D.O. Tadi mereka juga sempat mengobrol walau hanya sebentar." Sebuah seringai jahil terpatri di wajahnya.

Minhae yang menyimak perkataan Heerin serta melihat seringai yang terpatri di wajah Heerin langsung tersenyum jahil. "Jeongmalyo~? Aigoo....... Padahal mereka tidak pernah berbincang satu sama lain," terang Minhae dengan suara yang sengaja dikencangkan.

"Jinjja? Wah! Pantas saja daritadi teman kita yang satu ini hanya diam saja," sindir Heerin.

"Kau tahu? Mungkin dia akan lebih senang lagi kalau D.O-sshi mengajaknya berkencan," ujar Minhae.

"Lalu nanti mereka akan pergi melihat matahari terbenam di atas bukit. Kemudian di saat matahari terbenam mereka akan berbagi ciuman perta---"

"HENTIKAN KALIAN BERDUA!" teriak Songeul kesal–saking salah tingkahnya. Wajahnya sudah memerah bagai kepiting rebus. Terutama ketika mendengar kalimat 'ciuman pertama' yang keluar dari bibir Heerin–walau ia belum menyelesaikan kalimatnya.

Sementara itu, Heerin dan Minhae tertawa puas sembari ber-tos satu sama lain karena misi mereka dalam membuat Lee Songeul salah tingkah berhasil.

"Sampai kapan kalian akan tertawa seperti itu?" rengut Songeul kesal.

"Baiklah, Songeul-ah........ Kami tidak akan tertawa lagi," ucap Minhae yang mencoba menyudahi tawanya, begitu pula dengan Heerin.

"Sudahlah. Lagipula juga kita ada kelas, Minhae. Ayo cepat. Kau juga, Heerin. Gedung fakultas kita 'kan bersebelahan," ujar Songeul yang kemudian langsung berjalan begitu saja. Begitulah Songeul–kalau sudah salah tingkah karena sesuatu ia akan menjadi gampang kesal karena merasa dipermalukan oleh orang lain. Heerin dan Minhae pun juga mengikuti Songeul berjalan menuju kelas mereka.

Tiba-tiba Heerin teringat suatu hal yang ingin ia tanyakan kepada Songeul tadi. Ia mencoba untuk menanyakannya lagi.

"Songeul-ah," panggil Heerin.

"Ne, Heerin-ah?"

"Tadi kau sempat menanyakan soal 'sesuatu yang terjadi tadi malam', bukan?" tanya Heerin. Dari nada bicaranya ia terdengar amat serius.

Minhae–yang tentunya sudah tahu maksud dari pertanyaan Heerin barusan–menoleh ke arah Songeul, yang langsung memgangguki pertanyaan Heerin tadi.

"Ne. Tapi aku baru ingat kalau kau masih berstatuskan penduduk baru disini, jadinya aku memutuskan untuk tidak menanyakannya," jawab Songeul. Heerin makin penasaran, ia yakin kalau ada sesuatu dari kota kecil ini yang nampaknya disembunyikan dari dunia luar.

"Songeul-ah, apa maksudmu itu sebenarny---"

"YEOROBUUUNNN!!!" teriak sebuah...... Ah tidak, tapi bermacam-macam suara dari belakang ketiga gadis yang masih berjalan itu. Tentu saja ketiga gadis itu langsung menghentikan langkah mereka.

Heerin menghela nafasnya sejenak. Sepertinya aku tidak usah menanyakannya lebih lanjut, batin Heerin. Ia menoleh ke arah belakangnya dimana teman-temannya yakni Hyunra, Chika, dan Seungwoo yang lain tengah menghampiri dirinya serta Minhae dan Songeul.

"Kebetulan sekali bisa bertemu kalian," kata Hyunra.

"Kami mencari kalian daritadi. Ternyata kalian bertiga disini," kata Seungwoo.

"Memangnya kalian tidak bertemu dengan yang lain?" tanya Heerin. Alis sebelah kanannya menaik.

"Kami sudah bertemu yang lain. Makanya kami mencari kalian," jawab Chika. Heerin menganggukkan kepalanya mengerti.

Minhae melirik arlojinya sebentar. Kelasnya sebentar lagi akan dimulai. Kemudian ia langsung menoleh kearah teman-temannya.

"Yeorobun. Aku dan Songeul setelah ini ada kelas dulu. Kami tinggal duluan tidak apa-apa kan?" tanya Minhae yang disambut anggukan dari Heerin, Chika, Hyunra, dan Seungwoo.

"Kalau begitu, annyeong," pamitnya dan Songeul. Mereka berdua berjalan meninggalkan keempat temannya itu.

"Sampai bertemu di kantin!" terdengar seruan dari Chika dan Hyunra. Songeul menoleh, kemudian merespon seruan mereka dengan "Ne!". Dua gadis yang berstatuskan mahasiswi jurusan desain grafis itu melangkahkan kaki mereka menuju kelas mereka.


************* 

Sesampainya di dekat pintu kelas mereka, Minhae dan Songeul yang tadinya berjalan sembari bercanda bersama-sama langsung menghentikan langkahnya kala mereka melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu kelas mereka.

GLEK!


Kedua gadis itu langsung menelan ludah mereka saat menyadari siapa sosok yang tengah berdiri di depan pintu ruang kelas mereka.


Jika kalian menebak orang itu adalah Kris maka jawaban kalian sangatlah tepat.

Dan tampaknya Kris menyadari keberadaan Minhae dan Songeul–walau jarak antara kedua gadis itu dengan Kris sejauh 2 meter. Buktinya Kris langsung menoleh kearah 2 gadis itu yang sukses membuat Minhae dan Songeul tersentak kaget saat tiba-tiba Kris menatap mereka berdua tajam.


"D-dia...... me-menatap kita..... Minhae......." bisik Songeul terbata-bata sembari menyikut lengan Minhae. Namun yang disikut hanya terdiam saja.

Ia tidak menyetujui perkataan Songeul sepenuhnya. Karena menurut Minhae saat ini Kris tepatnya hanya menatap Minhae seorang. Dan yang aneh lagi tatapan Kris lain dari biasanya. Jika biasanya Kris menatap orang lain (selain Minhae) dengan tatapan dingin nan menusuk, maka kali ini Kris menatap Minhae dengan tatapan yang seolah-olah......


"Ya! Kris-hyung!" terdengar teriakan dari seseorang–yang diyakini sebagai seorang laki-laki. Kris menoleh ke arah sumber suara (begitu pula dengan Minhae dan Songeul). Mereka mendapati Chen yang sedang menghampiri Kris.


"Haish...... Aku mencarimu daritadi dan ternyata kau berada di sini hyung," omel Chen kepada Kris–yang tentunya hanya diam saja. Pemuda yang lebih pendek dari Kris itu menyadari keberadaan Minhae dan Songeul, kemudian ia menyapa mereka dengan "Annyeong" yang ramah. Kedua gadis itu langsung membalas sapaan Chen dengan sapaan yang ramah juga.


"Kau seharusnya sudah masuk kelas, hyung. Dosenmu sudah mencarimu tadi. Ayo cepat. Aku juga ada kelas setelah ini," ujar Chen. Kris hanya mengangguk singkat. Meeka berdua pun langsung berlalu menuju kelas mereka.


Tetapi sebelum pergi Kris sempat menoleh ke arah Minhae dan menatapnya sejenak. Sementara itu Minhae yang langsung ditatap seperti itu lagi hanya bisa terdiam. Namun itu tidak berlangsung lama karena Kris langsung pergi setelah Chen kembali memanggilnya dengan suaranya yang tidak bisa dikatakan rendah alias tinggi.

Sepeninggal kedua pemuda itu, dengan langkah cepat Minhae dan Songeul langsung memasuki kelas mereka. Untung saja saat mereka berdua masuk dosen mereka belum datang. Kedua gadis itu langsung mengambil tempat duduk mereka.

"Huaaahh........ Tadi itu menegangkan sekali ne, Minhae-ah," tutur Songeul sambil menghela nafasnya lega. Dan lagi-lagi Minhae hanya bisa terdiam. Pikirannya masih terpaku pada saat kedua mata hazel brown milik Kris menatap gadis bermarga Seo itu dengan......... ah, bagaimana cara menjelaskannya dengan baik?


Tatapannya tadi benar-benar lain dari biasanya. Seperti tersirat makna yang.........aish, sudahlah, batin Minhae yang akhirnya memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi.



*************

-END for Chapter 3-


============================================================


Akhirnya saya bisa meng-update chapter 3 ini huhuhuhu ; w ;

Ya dikarenakan kesibukan saya dalam mengikuti diklat Cacapsis di sekolah jadi saya belum sempat memindahkan draft fanfic ini dari buku saya.

Kemudian untuk beberapa chapter kedepan saya memutuskan untuk fokus ke pengenalan couple-nya dulu. NGGA KOK. SAYA NGGA LANGSUNG NGASIH MOMENT COUPLE-COUPLENYA GITU. Saya bikinnya per chapter itu paling nggak 3 couple lah. Dan saya mencoba untuk menyeimbangkan moment-nya. Mohon maklumi diri saya yang baru PERTAMA KALI bikin fanfic dengan tokoh 24 orang sekaligus. *membungkukkan badan 90 derajat*

Anyway, mind to review? ^^

4 comments:

A! said...

haaaa saking banyaknya couple jadi konsentrasi nya mesti kepecah belah gitu huhu tapi gak apalah ff nya masih seru kok! :D mangadh ya eonnie buat cacapsisnyaaa!!!

Hyun Ra Park said...

Whoaaa...akhirnya sampe juga ke pengenalan couple-couple nyaaa....

duh intinya gak ada yang perlu di kritik sih di ff ini. secara udah ndewa banget ;u;

untuk chapter selanjutnya gue tunggu yaa~~!! btw semangat buat cacapsisnya!! ganbatte kudasai!!!

Amalia Fitry Baruna said...

keyeeeennnnn! penpiknya bwadaii kkk seru aja gitu bacanya walaupun baru chapter ketiga. sejauh ini masih awsum2 aja gada yg bisa dikritik hohoho~ btw 4 jempol for ya fiqiiiih;)

semangat diklatnya yaaa! jangan liatin kakak osis yg ganteng mulu #eh wkwkwk

Nadya said...

eonni nih ff nya gk di lanjut yahh ??
chap 4 nya kemana ??

Post a Comment

 
;