Friday, September 6, 2013

[Fanfiction] 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty) — Chapter 1

Title: 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty)

Genre: Romance, Fantasy, School-life (sort of)

Rate: PG-14

Cast:
-EXO members                                                         -etc.
-Original Characters

Disclaimer: I do not own any casts—except original characters. Plot is inspirated by EXO's '늑대와 미녀 (Wolf)'.


Status: On-going

Chapter: 1/? (Arrived)

Language: Indonesian

============================================================







For the forewords, you can click here.

Note: the beginning is inspirated by Twilight. So yeah, you can say that I'm also inspirated from Twilight

*************

Heerin menghela nafasnya saat pesawat yang ia tumpangi telah mendarat di tanah negara yang mendapat julukan 'negeri ginseng' atau 'negeri kimchi' itu.

Shin Heeringadis berkacamata itu, harus pindah ke Korea Selatan setelah kedua orang tuanya resmi bercerai. Ibunya yang sempat tinggal di Belanda memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang atlit berkebangsaan Amerika dan akan tinggal di negara kampung halaman kekasih ibunya itu. Sementara Heerin yang tidak ingin mengganggu dan merusak kebahagiaan pasangan baru itu memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di Korea. Ayahnya yang bernama Shin Donghoon adalah seorang kepala polisi di daerah tempatnya tinggal.

"Tenang saja, Heerin-ah. Appa-mu tahu cara memasak yang baik. Namun jangan terus bergantung appa-mu karena ia pasti akan sering tidak ada di rumah. Walaupun appa-mu sering tidak di rumah karena harus mengurusi kasus-kasus yang ada, tapi setidaknya kau harus belajar mandiri selama kau di rumah sendirian sementara ayahmu sedang tidak di rumah. Arachi?" begitulah pesan dari ibunya sebelum Heerin naik pesawat menuju Korea, yang dibalas oleh Heerin dengan kalimat "Arasseo, umma".

Aku berharap semoga hidupku disini akan baik-baik saja, batin Heerin.



*************

Sembari membawa kopernya, Heerin melangkahkan kakinya di bandara internasional Incheon. Kedua matanya mencoba mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bandara mencoba mencari ayahnya yang mungkin sedang menunggu kedatangannya. Akhirnya pandangan Heerin terjatuh kepada sosok pria berusia sekitar 40-an yang tengah meminum kopinya di sebuah kafe. Gadis bermarga Shin itu segera berjalan menghampiri pria yang diyakini sebagai ayahnya itu.

"Annyeong, appa," sapa Heerin saat ia sudah berdiri di samping pria itu. Pria itu menoleh dan wajahnya langsung sumringah saat melihat Heerin tengah berdiri sambil membawa koper dan tas ranselnya.

"Ah! Kau sudah sampai ternyata," ucap pria yang memang ayah Heerin itu. Ia beranjak dari duduknya dan segera memeluk putri semata wayangnya itu. Setelah ia melepas pelukannya, ayah Heerin berkata, "Sebaiknya kita segera pulang."



*************

(Di perjalanan.....)

"Jadi, Heerin-ah," mulai ayah Heerin. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya. Mata pria berusia lebih dari 40 tahun itu masih terfokus dengan jalanan yang ia lintasi dengna mobilnya.

"Baik-baik saja," jawab Heerin singkat. Ayahnya menatap Heerin sejenak.

"Benar kata umma-mu. Kau menjadi lebih pendiam. Biasanya kau cerewet sekali," Heerin tersenyum kecil mendengar tuturan ayahnya tadi. "Maafkan appa, Heerin-ah. Karena appa kau menjadi seperti ini......" kata ayah Heerin dengan nada menyesal.

Heerin menggelengkan kepalanya. "Aniappa. Ini bukan salahmu. Lagipula memang keputusannya sudah begini, bukan? Lebih baik hal seperti ini jangan dibahas lagi," ujar Heerin berusaha bijak.

Ayah Heerin tersenyum kemudian ia mengacak rambut putrinya dengan satu tangan. Kemudian matanya berbinar-binar bahagia saat menyadari mereka sudah sampai di suatu tempat.

"Kita sudah sampai di Neukda-maeul," ucap ayah Heerin saat mobil yang mereka tumpangi telah melewati banner yang bertuliskan '늑다 마을에 오신 것을 환영합니다' (artinya: Selamat datang di Neukda-maeul/Desa Neukda).

Neukda-maeul adalah sebuah kota kecil yang terletak di daerah pegunungan yang berada di provinsi Gangwon. Dahulunya Neukda-maeul adalah desa, makanya ada kata maeul yang berarti desa. Namun seiring berjalannya waktu, teknologi makin berkembang. Desa ini berkembang maju dan akhirnya berubah menjadi sebuah kota kecil yang sebenarnya maju. Namun nama kota ini tetaplah Neukda-maeul, karena penduduk kota ini tidak mau mengubah nama kampung halaman mereka sama sekali. Entah mengapa.....

Mobil berwarna silver itu terus melaju menuju daerah pinggiran kota hingga akhirnya tiba di depan sebuah rumah bertingkat 2 berwarna putih.

Heerin turun dari mobil, begitu pula dengan ayahnya yang tepat setelah turun langsung mengambilkan koper anaknya yang ada di bagasi. Being a good father he is.

"Mungkin tidak semewah dan sebagus rumah umma-mu, tapi......"

"Tenang saja, appa. Aku sangat menyukainya. Terlihat nyaman," Heerin segera memotong perkataan ayahnya.

(Note: bayangin aja rumah ayahnya Heerin kayak rumahnya Bella di Twilight)

Kedua ayah dan anak itu berjalan masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam, Heerin dibuat kagum oleh interior rumah ayahnya–yang sebentar lagi akan jadi rumahnya itu. Semua peralatan yang ada didominasi oleh kayu–kesukaan ayahnya–. Namun tampaknya Heerin menyukainya.

"Kamarmu ada di atas, Heerin-ah," tukas ayah Heerin. Heerin mengangguk sebagai respon. Ia mengambil seluruh barang bawaannya dan kemudian berjalan ke kamarnya yang ada di langai atas. Ayahnya sempat ingin membawakan tas milik Heerin lagi, namun Heerin melarangnya dan berkata, "Aku bisa melakukannya sendiri, appa".

Sesampainya di kamar, Heerin kembali dibuat kagum oleh ayahnya. Kamarnya begitu dominan dengan warna violet, warna kesukaannya. Namun ada beberapa barang berwarna putih juga. Tempat tidurnya berada di antara meja belajar (yang ada di sebelah kiri tempat tidur jika dilihat dari depan) dan meja nakas (yang ada di sebelah kanan jika dilihat dari depan). Seprei tempat tidurnya berwarna ungu. Diatas meja belajarnya sudah ada buku-buku dan sebuah notebook. Lalu di sebelah kanan (jika dilihat dari depan) ada jendela yang langsung menghadap ke arah hutan.

"Umma-mu berkata kalau kau sangat menyukai warna ungu," ucap ayah Heerin yang sudah ada di belakang Heerin. Heerin menoleh kemudian ia tersenyum.

"Aku menyukainya, appa. Gomapta," kata Heerin sebelum ia memeluk ayahnya. Ayahnya pun membalas pelukan putrinya itu.

"Kalau begitu, kau beristirahatlah saja dulu Heerin-ah. Kau tampak lelah," tukas ayah Heerin. Heerin mengangguk. Ia kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Heerin menaruh semua barang bawaannya di dekat meja belajar–ia sedang malas untuk menyusun barang-barangnya dan menaruh semua pakaiannya di lemari. Setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamarnya sejenak, lalu ia menghela nafasnya.

Semoga hidupku disini akan baik-baik saja, batin Heerin sebelum akhirnya ia mulai memejamkan kedua matanya dan mulai terjun ke dalam dunia mimpi.



-END of Chapter 1-

============================================================

Such a short chappie XD

Akhirnya saya bisa menyelesaikan chapter 1 ini dengan baik....... Well, ngga baik-baik amat sih. :P
Ini tadinya saya tulis di buku tulis saya yang gabut terus saya memutuskan untuk memindahkannya di blog. Karena yang di buku saya terlalu pendek maka saya mencoba mengembangkannya secara sedikit lebih luas.

Ya pokoknya silahkan di-review ^^

4 comments:

Vina Kimberly said...

Chapter 2 nya di update dong hehe. Mana ni yg ada gue nya?

Fiqih said...

Ditunggu dulu ya vin. Ini lagi dalam proses kok hehehe

Caca Cantika said...

Keren!! Semangat terus author!!

Caca Cantika said...

Keren!! Semangat terus author!!

Post a Comment

 
;