Chapter: 3/? [Going Home]
Genre: Romance, Comedy, (a little bit of) School-life
Rate: PG-12
Disclaimer: Plot belongs to me yet inspirated from my friend's fic (you can check it in here. The title of the fic is 'Between You and Me').
Cast:
-EXO members
-Original Characters
Summary: Pertemuan pertama pasangan yang kalian kira manis awalnya tidak semanis yang kalian kira.
Author notes: part 3 pun sudah jadi~ saat ini sebenernya saya lagi ga enak badan tapi saya tetap berniat ingin melanjutkannya huhuhuhuh ;w; padahal besok baru UTS di sekolah OTL
Anyway, happy reading~ ^^
~ooooooo~
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para guru yang tadinya sibuk
mengajar di kelas akhirnya mengakhiri pelajaran dan kemudian keluar dari kelas
tempat mereka mengajar menuju ruang guru. Sementara itu para murid langsung
mengemas barang-barang mereka ke dalam tas kemudian mengambil tas mereka dan
pulang. Rutinitas yang selalu terjadi ketika jam sekolah telah berakhir, hmm.
Sementara itu Heerin masih sibuk dengan memasukkan
barang-barangnya setelah ia baru saja selesai mencatat materi di papan tulis ke
dalam buku catatannya. Tidak lupa ia mengecek kembali apakah masih ada
barangnya yang tertinggal.
“Ya! Heerin-ah!” panggil seseorang dari arah depan
kelas. Heerin sempat menoleh sekilas ke arah sumber suara sebelum akhirnya ia
kembali sibuk dengan kegiatan memeriksa apakah ada barang-barangnya yang
tertinggal.
“Waeyo, Seungwoo-ah?” tanya Heerin begitu ia menyadari
Seungwoo berada di dekatnya saat ini.
“Ani. Kau kapan pulang?
Kau ditunggu Hyunra. Dia ingin mengajakmu pulang bersama, tuh,” jawab Seungwoo.
“Lah? Memangnya kau sendiri mau kemana?” tanya Heerin lagi, kali
ini menatap lawan bicaranya setelah ia mengambil tasnya. Dapat dilihatnya kini
wajah Seungwoo yang bersemu merah serta gadis yang lebih muda darinya itu kini
tengah memainkan jemari tangannya, seolah sedang salah tingkah.
“Eumm.....itu. K-kau tahu ‘kan aku baru saja jadian dengan Park
Chanyeol.....” ucap Seungwoo agak terbata-bata. Tanpa menunggu lanjutan dari
perkataan Seungwoo, Heerin sudah bisa menebaknya.
“Ah jadi dia mengajakmu berkencan, begitu?” terka Heerin dengan
senyum penuh makna yang terpatri di wajahnya. Seungwoo agak tersentak mendengar
terkaan temannya barusan. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan.
“Ne.....t-tapi kau tidak
marah ‘kan kalau aku tidak bisa pulang bersama kalian?!? Habisnya aku tidak
enak sama kalian berdua.....” panik Seungwoo. Heerin menggelengkan kepalanya.
“Aniya. Buat apa kami
marah? Lagipula juga justru kami berdua malah terharu karena akhirnya uri maknae sudah dewasa,” ujar Heerin.
Seungwoo merasa senang mendengar ucapan temannya yang mempunyai pembawaan
tenang dan dewasa ini.
“Gomapta, Heerin-eon..... AUW!!” tiba-tiba Seungwoo
berteriak kesakitan saat merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Begitu ia
menoleh, ia menyadari kalau ada seseorang yang melemparinya penghapus tepat
mengenai kepalanya. Dan ketika Seungwoo siapa orang tersebut......
“YA! KIM JONGDAE! APA
MAUMU, HAH?!?!?” teriak Seungwoo murka begitu mendapati sosok Jongdae yang
tengah memegang katapel di tangannya. Pemuda dengan struktur wajah berbentuk
kotak (?) itu tertawa puas melihat korbannya murka.
“Tangkap aku kalau bisa~” tantang Jongdae yang kemudian melesat
keluar dari ruang kelas 1-7. Merasa tertantang, Seungwoo pun langsung mengejar
pemuda yang sejak dari awal mereka bertemu pemuda itu langsung mengerjai
Seungwoo entah karena apa.
Melihat teman dekatnya yang sudah melesat keluar kelas itu membuat
Heerin menggelengkan kepalanya seraya bergumam “Dasar”. Akhirnya gadis bermarga
Shin itu keluar dari kelasnya, melangkahkan kedua kakinya ke arah gerbang
sekolah.
Begitu ia berada di dekat gerbang, dahi Heerin mengernyit kala ia
mendapati sosok pemuda yang tidak asing dalam pandangannya tengah bersandar
pada dinding gerbang sekolah.
Kukira dia akan langsung pulang, batin Heerin. Gadis itu berjalan
mendekati sosok pemuda yang masih setia bersandar pada dinding gerbang sekolah.
“Sunbae belum pulang?”
tanya Heerin to the point begitu ia
sudah berdiri di samping pemuda yang tak lain Joonmyeon itu. Merasa ditanyai,
Joonmyeon menoleh ke arah suara dan mendapati orang yang ditunggunya telah
datang.
Sembari menunjukkan angelic
smile yang sudah menjadi trademark-nya,
Joonmyeon menjawab–atau tepatnya bertanya balik, “Aku menunggumu daritadi. Kau
tahu itu berbahaya ‘kan kalau seorang gadis pulang sendirian tanpa ada yang
menjemputnya?” Pemuda itu berbalik, bersiap untuk pulang.
Sementara Heerin sendiri tertegun mendengar ucapan Joonmyeon
barusan. Tetapi kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. Itu hanya formalitas, Heerin-ah. Dia begini
hanya karena kau adalah anak dari teman dekat orangtuanya, sugesti Heerin
pada otaknya.
“Hei,” tiba-tiba terdengar suara Joonmyeon memanggilnya. “Kau mau
pulang atau tidak?”
Tersentak mendengar suara Joonmyeon memanggilnya, Heerin pun
mendekati Joonmyeon. Akhirnya mereka berdua pun pulang bersama ke rumah
Joonmyeon. Ingat, Heerin baru saja menginap di rumah Joonmyeon kemarin, bukan?
Di perjalanan pulang pun keheningan terasa di antara mereka.
Tepatnya keheningan yang awkward.
Joonmyeon yang sebenarnya merasakan kalau keheningan yang tercipta di antara
mereka begitu awkward. Ia tengah
berpikir bagaimana agar gadis yang berjalan di sampingnya ini bisa membuka diri
terhadap Joonmyeon.
Sementara Heerin? Gadis itu tampaknya biasa-biasa saja. Malah kini
ia tengah sibuk dengan ponselnya, seolah tak menyadari kalau sosok disampingnya
tengah berkeluh kesah karena ingin mengajak Heerin mengobrol walau hanya 1 kata
saja.
Joonmyeon sendiri juga heran. Biasanya ia gampang-gampang saja
mengajak bicara orang lain yang baru ditemuinya. Hanya saja Heerin terlalu
berbeda. Ia tampak tidak begitu bersahabat yang membuat Joonmyeon terkadang
berpikir apa benar Heerin yang dingin adalah adik dari Minseok yang hangat itu.
“Sunbae kalau mau
bicara, bicara saja,” dan tampaknya Heerin menyadari keluh kesah yang tengah
dihadapi oleh pemuda bermarga Kim itu. Tentu saja Joonmyeon tersentak mendengar
perkataan Heerin barusan.
“E-eh?”
“Jangan pura-pura bingung. Kalau mau bicara padaku, bicarakan hal
yang memang penting saja,” ujar Heerin dingin (setidaknya menurut Joonmyeon).
Joonmyeon menghela napasnya mendengar ujaran dingin yang keluar
dari bibir gadis itu. Mau sampai kapan Heerin akan bersikap dingin kepadanya
terus? Untung saja gadis itu akan dirumahnya sampai hari Minggu nanti, pikir
Joonmyeon. Untung saja mereka hanya pulang bersama pada hari ini saja–karena
Joonmyeon dipaksa ibunya agar pemuda itu pulang bersama Heerin dari sekolah.
“Sunbaenim,” akhirnya
Heerin yang memutuskan bicara duluan. “Kau tidak apa-apa kalau kau pulang
bersamaku?”
“Eh? Maksudmu?”
“Kau ‘kan dikenal sebagai ‘pangeran sekolah’. Kalau misalnya
penggemar-penggemarmu melihatmu jalan bersamaku, yang notabene masih kelas 1,
apa mereka tidak akan marah?” Heerin memperjelas pertanyaannya barusan. Barulah
Joonmyeon paham maksud pertanyaan Heerin.
Siapa sangka ternyata gadis ini mempunyai kehati-hatian yang
tinggi walaupun dari luar ia terlihat cuek dan dingin.
“Ah itu. Kau lihat sendiri ‘kan tadi sekolah sudah sepi? Jadi
mumpung sekolah sudah sepi, perjalanan pulang kita bisa terbebas dari gangguan
seperti itu,” terang Joonmyeon. Toh kita
hanya pulang bersama pada hari ini saja, lanjutnya dalam hati.
“Ternyata kau takut juga ya pada penggemar-penggemarmu,” tukas
Heerin.
“Bukan begitu,” kilah Joonmyeon. “Aku lebih takut lagi kalau kau
yang diapa-apakan oleh mereka.”
Heerin langsung menghentikan langkahnya begitu ia mendengar
perkataan Joonmyeon tadi. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan tak percaya.
Sembari itu, batinnya terus ia coba tanami dengan sugesti kuat kalau ‘Joonmyeon
bersikap seperti itu kepadanya hanya karena formalitas saja’.
“Kau orang aneh, Joonmyeon-sunbae,”
ucap Heerin pada akhirnya yang kemudian berniat melanjutkan perjalanan
pulangnya. Sementara itu Joonmyeon tersenyum simpul ke arah gadis itu.
Setidaknya ia masih mau mendengar ucapanku
walaupun sikapnya kepadaku seperti itu, Joonmyeon berusaha berpikir positif. Mereka berdua pun kembali
melangkah menuju kediaman keluarga Kim.
Tiba-tiba ponsel Heerin berdering. Menandakan adanya panggilan
masuk dari Hyunra.
“Eh? Ada apa dia meneleponku?” gumam Heerin pelan namun masih terdengar
oleh telinga Joonmyeon. Heerin pun menerima panggilan masuk dari teman dekatnya
itu.
“Wae, Hyunni—“
“YA! NEO EODINYA?!?!” teriak suara Hyunra di
seberang sana yang sukses membuat Heerin menjauhkan telinganya dari ponselnya.
Bahkan sampai tertangkap dalam indera pendengaran Joonmyeon juga.
“Aish.....ya! Bisakah
kau tidak berteriak seperti itu?!? Kau mau menulikan telingaku, eoh?!?!” balas
Heerin tak kalah kesal.
“Beraninya kau marah-marah
padaku. HARUSNYA AKU YANG MARAH PADAMU! KAU DIMANA?!?!” omel Hyunra lagi.
“Di jalan pulang. Wae?”
“MWORAGO?! Kau sudah
pulang?!? Dasar pengkhianat!”
“Ya! Apa-apaan kau
menyebutku pengkhianat?!?” omel Heerin tak terima dikatai pengkhianat. Tanpa ia
sadari, Joonmyeon kini tengah tertawa pelan karena pembicaraan telepon yang
unik itu.
“Tentu saja aku menyebutmu
pengkhianat! Bukannya harusnya kita pulang bersama?! Aku masih menunggu di kafe
dekat sekolah kita sedangkan kau dengan teganya pulang duluan meninggalkanku!”
Heerin membatu sejenak. Dia baru teringat satu hal. Harusnya tadi ‘kan
dia pulang bersama Hyunra, bukan bersama Joonmyeon.....
“OMO!” pekik Heerin yang
akhirnya teringat dengan janjinya tadi. “Aish.....mianhae, Hyunra-ah. Aku
tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian.....” dan setelah itu terdengarlah
pintaan Heerin yang berusaha mendapatkan maaf dari Hyunra karena dengan teganya
(?) meninggalkan Hyunra sendirian.
Lagi, tanpa Heerin sadari, Joonmyeon kini tengah menatapnya dengan
tatapan penuh makna. Heerin yang ia lihat saat ini bukanlah Heerin yang
biasanya memancarkan aura dingin kepada orang asing. Ia bisa merasa kalau
Heerin yang ia lihat sekarang adalah Heerin yang sebenarnya.
Dan tampaknya ia harus memuji kejeniusan Luhan tadi pagi. Karena
tebakan pemuda Cina itu yang mengatakan kalau Joonmyeon tertarik dengan Heerin
ada benarnya.
Namun satu yang kurang dalam hipotesa pemuda Cina dengan mata
mirip rusa betina itu.
Kalau Joonmyeon berniat ingin mencairkan es yang menjadi pelindung
gadis yang masih meminta maaf pada temannya di telepon saat ini.
~ooooooo~

0 comments:
Post a Comment