Thursday, May 1, 2014

[Fanfiction] The Beginning (Chapter 4)

Title: The Beginning

Chapter: 4/? [The Chinese Cousin & The Love at First Sight]

Genre: Romance, Comedy, (a little bit of) School-life

Rate: PG-12

Disclaimer: Plot belongs to me yet inspirated from my friend's fic (you can check it in here. The title of the fic is 'Between You and Me').

Cast:
-EXO members
-Original Characters

Summary: Pertemuan pertama pasangan yang kalian kira manis awalnya tidak semanis yang kalian kira.

Author notes:
HUAKAKAKAKAK bisa lanjutin juga akhirnya. Dari kemarin udah ada niatan buat ngelanjutin sebenernya tapi ya karena UTS + saya tidur malem melulu yg menyebabkan saya tiap pulang sekolah jd rajin tidur siang menbuat saya tidak bisa melanjutkannya. Huhuhuhu maafkan daku ;w;
Anyway, happy read~ ^^


~ooooooo~

Sesampainya di kediaman keluarga Kim, Joonmyeon dan Heerin disambut oleh para maid dan butler di kediaman keluarga Kim. Mereka tampak sibuk membersihkan rumah yang megah itu sebelum akhirnya pulang. Maid dan butler yang dipekerjakan di kediaman keluarga Kim bekerja sampai malamnya, tidak tinggal disana.

“Selamat datang, tuan muda Kim dan nona muda Shin,” Sung-ahjussi yang pertama menyapa Joonmyeon dan Heerin begitu mereka berdua sampai di rumah. Heerin yang tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu membungkukkan badannya dengan canggung.

“Tidak perlu seperti itu, nona muda. Cukup saya saja yang membungkukkan badan kepada Anda,” ucap Sung-ahjussi sopan. Heerin menggelengkan kepalanya.

Aniya. Tidak usah begitu. Dari dulu saya diajarkan oleh kedua orangtua saya agar bisa lebih menghormati yang lebih tua dari saya,” kata Heerin sopan membuat Joonmyeon serta Sung-ahjussi menatapnya kagum.

Tapi kepadaku dia dingin sekali, komentar Joonmyeon dalam hati.

“Ah iya. Tuan muda,” Sung-ahjussi mengalihkan perhatian kepada Joonmyeon. “Saudara Anda sudah datang.”

Dahi Joonmyeon sedikit mengernyit. Saudara? Setahunya saudaranya ada banyak sekali. Itupun saudara jauh karena ia sendiri anak tunggal.

“Saudara? Nugu?” tanya Joonmyeon heran.

“Saat ini dia sedang mandi, tuan mu—“

“JUNMA HAO~” seru sebuah suara dari arah tangga menuju lantai 2. Spontan semua orang yang ada di ruang tengah menoleh ke arah sumber suara. Mengetahui siapa yang bersuara barusan membuat kedua mata Heerin terbelalak.

Seorang pemuda yang berbadan sangat tinggi–bahkan melebihi Joonmyeon dan Minseok, mungkin se-Chanyeol– berlari menghampiri Joonmyeon dan langsung memeluk tubuh pemuda itu.

Namun yang membuat Heerin kaget adalah....... PEMUDA YANG MEMELUK JOONMYEON ITU TIDAK MEMAKAI BAJU ATASAN SEHELAI BENANGPUN. HANYA MEMAKAI CELANA JEANS PANJANG WARNA HITAMNYA. Cukup untuk memperlihatkan abs-nya dan cukup pula untuk membuat para maid yang masih ada di kediaman keluarga Kim tersentak dengan wajah yang memerah.

Aigoo.....jadi yang kau datang, Tao.....” kata Joonmyeon yang sembari mencoba melepas dirinya dari pelukan erat pemuda yang dipanggilnya Tao tadi. Tetapi pada akhirnya Tao melepas pelukannya sehingga wajahnya terlihat jelas dalam zona penglihatan Heerin.

Pemuda itu berambut hitam legam dengan ciri khas berupa kantung mata seperti corak hitam pada mata panda. Bibirnya berbentuk seperti bibir kucing. Entahlah, pemuda ini terlihat mengerikan namun juga menggemaskan di saat yang bersamaan.

Jarang sekali aku menemukan pemuda macam dia di sekolah, batin Heerin yang terkagum-kagum pada pemuda bernama Tao itu. Yah walaupun gadis itu agak sedikit sebal karena dengan santainya Tao tidak memakai pakaian atasan saat ini. Tidak sopan, demikian pikirnya.

Nan bogoshipeo, Junma hao~” ucap Tao dengan suara yang cukup membuat Heerin kembali membelalakkan kedua matanya begitu mendengar suara pemuda dengan logat yang aneh ketika mengucapkan kalimat bahasa Korea itu.

Suaranya saja menggemaskan sekali astaga~ Dan logatnya.....dia dari Cina?, Heerin mencoba menebak-nebak mengenai identitas asli pemuda ini.

Sementara itu Joonmyeon tengah tersenyum sembari mengacak poni Tao. “Nado. Kau sedang apa disini? Nǎlǐ shì nǐ de fùmǔ ne? (terjemahan: orangtuamu ada dimana?)” tanya Joonmyeon dengan bahasa Mandarin yang tentu saja Heerin tidak mengerti.

Tunggu! Dia bisa bahasa Mandarin? Sebenarnya dia ini keturunan Korea atau Cina, sih?, batin Heerin yang makin penasaran terutama setelah mendengar Joonmyeon mengucapkan bahasa Mandarin dengan lancar.

“Aku sendirian saja ke sini, (terjemahan: kakak laki-laki). Soalnya aku ikut program pertukaran pelajar di sekolahku,” jawab Tao dengan wajah berseri-seri. Kemudian pandangannya beralih ke arah Heerin yang berdiri di belakang Joonmyeon dengan mulut sedikit ternganga.

Gē, Tā shì shuí? (terjemahan: kak, dia siapa?)” tanya Tao sembari melihat Heerin–mungkin dia tahu kalau menunjuk orang itu sebenarnya tidak sopan. Walau Heerin tidak tahu artinya tapi Heerin merasa kalau ia kini tengah ditanyai.

“Ah iya! Tao, kau masih ingat Minseok-? Ini adik perempuannya. Namanya Shin Heerin,” Joonmyeon akhirnya memperkenalkan Heerin kepada Tao.

Refleks Heerin langsung membungkukkan badannya. Kemudian gadis itu memperkenalkan dirinya, “Annyeong haseyo. Shin Heerin imnida.” Ingat, gadis ini tidak bisa bahasa Mandarin.

“Uwaahh~ mirip sekali dengan Minshuo-~” seru Tao kagum. Mendengar kata ‘Minshuo’ membuat Heerin mengernyit.

“Maaf. Minshuo?” tanya Heerin hati-hati.

“Ah itu nama Cina-nya Minseok-hyung,” terang Joonmyeon. “Dia sendiri yang bilang kalau nama Mandarin-nya itu Minshuo jadi ya Tao langsung memanggilnya dengan panggilan Minshuo.”

Heerin menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti. Aku lupa kalau Minseok-oppa bisa bahasa Mandarin, batinnya.

“Hehehehe. Tenang saja, aku akan memanggilmu dengan nama aslimu kok, Heerin-sshi. Aku sedang belajar bahasa Korea saat ini,” tukas Tao. “Ah iya! Aku lupa! Namaku Huang Zitao. Senang berkenalan denganmu, Heerin-sshi.”

Merasakan aura yang bersahabat dari Tao, Heerin pun tersenyum kecil kearah pemuda bermata panda itu.  “Nado bangapta, Tao-sshi,” balas gadis itu.

Sementara itu mulut Joonmyeon sedikit ternganga melihat perilaku Heerin barusan. Kenapa giliran Tao dia langsung bisa ramah seperti itu? Padahal mukaku ‘kan lebih ramah dari Tao, batin Joonmyeon tidak terima.

“Sebenarnya kau ini siapanya Joonmyeon-sunbae?” tanya Heerin lagi.

“Oh, aku saudara jauhnya. Ayahnya Junmian- ada keturunan Cina. Jadi aku ini keponakan ayahnya Junmian-,” terang Tao. “Mianhae kalau misalnya bahasa Korea-ku masih sulit dimengerti. Aku masih belajar soalnya.”

Sembari tersenyum maklum Heerin membalas, “Ah, tidak apa-apa kok. Aku dapat mencerna apa yang kau ucapkan dengan baik.” Mendengar perkataan Heerin barusan membuat wajah Tao kembali berseri-seri persis ketika Joonmyeon dan Heerin baru pulang tadi.

Tanpa disadari oleh kedua makhluk yang masih bercengkerama dengan akrabnya itu ada seseorang yang terdiam menatap mereka dengan perasaan.......sebal?

“Junmian-!” seru Tao sembari menoleh ke arah Joonmyeon. Yang dipanggil pun langsung merubah ekspresi wajahnya seperti sedia kala.

Ne?”

“Aku bawa banyak oleh-oleh dari Cina, lho. Ayo ikut ke kamarku, soalnya oleh-olehnya masih ada di tas semua,” ajak Tao. Joonmyeon dan Heerin pun mengangguk. Mereka bertiga pun berjalan menuju kamar yang ditempati oleh Tao.

~oooooooo~

-Malamnya....-

Joonmyeon tengah berada di balkon kamarnya, menikmati pemandangan kota Seoul ketika malam. Bangunan-bangunan yang lampunya sudah dinyalakan terlihat indah dari kejauhan. Sekali-kali ia butuh penyegaran seperti ini selepas dari dunia belajarnya.

Saat sedang asyik menikmati pemandangan kota Seoul, seseorang memasuki kamarnya dengan seenaknya. Tapi Joonmyeon tahu siapa yang masuk ke kamarnya tanpa perlu melihat siapa orang itu.

Waeyo, Tao?” tanya Joonmyeon tanpa menoleh ke arah belakangnya. Yang dipanggil sempat tersentak namun akhirnya pemuda bertubuh tinggi itu berjalan dan akhirnya berdiri di samping Joonmyeon, ikut hanyut dalam menikmati pemandangan kota Seoul pada malam hari.

“Adiknya Minshuo-manis sekali ya,” puji Tao dengan bahasa Mandarin, biar tidak ada yang mengerti apa yang sedang mereka bicarakan saat itu. Terutama Heerin yang mengakui kalau ia tidak bisa bahasa Mandarin seperti kakaknya.

Dahi Joonmyeon mengernyit mendengar kalimat yang dituturkan Tao barusan.

“Maksudmu bicara seperti itu apa, Zitao?” tanya Joonmyeon dengan raut wajah serius. Lain Joonmyeon, lain pula dengan Tao yang kini terkikik pelan karena melihat raut serius yang terpatri di wajah saudara jauhnya.

“Aish....lihatlah siapa yang cemburu sekarang,” ledek Tao. Wajah Joonmyeon memerah mendengar ledekan saudara jauhnya yang seusia dengan Heerin itu.

“A-apa maksudmu berkata seperti itu, hah? Aku tidak cemburu, kok,” kilah Joonmyeon. Namun tetap saja, kilahan itu tidak mempan bagi Tao. Apalagi gēgē-nya yang satu itu terlihat jelas kalau ia salah tingkah.

“Sudahlah, jangan mengelak. Aku tahu kalau gēgē sebenarnya tertarik sama Heerin,” terka Tao. Joonmyeon pun menghela napasnya.

“Ya kau bisa lihat sendiri ‘kan kalau dia itu beda dengan gadis-gadis yang selalu mencoba mendekatiku,” kata Joonmyeon. Tao paham betul maksud dari perkataan gēgē-nya itu. Waktu keluarga Joonmyeon menghadiri acara di Cina, dalam sekejap banyak gadis-gadis yang langsung mendekati Joonmyeon demi bisa berkenalan dengannya, meminta nomor ponselnya, pokoknya banyak. Dan Tao merasa iri sekaligus kasihan sama Joonmyeon karena hal itu.

“Iya aku bisa melihatnya, kok,” ucap Tao.

“Saking bedanya ia bersikap sangat dingin kepadaku,” keluh Joonmyeon.

“Dingin? Tapi kenapa denganku tidak?” tanya Tao dengan wajah polos. Mendengar pertanyaan saudara jauhnya barusan membuat Joonmyeon mendengus sebal.

“Mungkin kau lagi diselamatkan dewi fortuna,” jawab Joonmyeon agak sarkastik. Kembali Tao terkikik karena kecemburuan Joonmyeon yang terekam jelas di wajah tampan pemuda bermarga Kim itu.

“Harusnya aku yang iri padamu, ,” tukas Tao. Joonmyeon menoleh ke arah pemuda yang berbadan lebih tinggi darinya itu.

“Maksudmu?”

“Ya kau ‘kan sering didekati oleh banyak perempuan. Eumm.....pengecualian buat Heerin,” jelas Tao. “Apalagi kau terlihat cocok dengannya walaupun ia bersikap seperti itu padamu. Tapi aku yakin kau akan berakhir bahagia dengannya. Beda denganku.”

Joonmyeon menatap Tao tidak mengerti. “Kau bicara apa sih?” tanyanya.

Gēgē tahu sendiri kalau aku jarang tertarik pada perempuan, bukan?” Tao bertanya balik–atau lebih tepatnya mengingatkan Joonmyeon mengenai masalah pribadinya. Untungnya Joonmyeon langsung teringat. Buktinya ia langsung bersuara “Ah~ Masalah itu~”.

Tidak, jangan salah paham dulu. Seorang Huang Zitao bukanlah gay. Hanya saja ia belum menemukan yang tepat baginya. Walau ia juga tak kalah populer dengan Joonmyeon tapi ia dan Joonmyeon itu masih ada perbedaannya.

Kalau Joonmyeon masih bisa menggunakan formalitas apabila ada yang mendekatinya, maka Tao tidak. Dengan dingin Tao langsung menjauh dari gadis-gadis yang mencoba mendekatinya. Karena Tao merupakan tipikal orang yang menghargai ketulusan..

Sementara gadis-gadis di sekolahnya yang ada di Cina mendekatinya hanya karena ia ttu ‘pangeran sekolah’. Tidak ada ketulusan dibalik makna pendekatan yang dilakukan oleh gadis-gadis itu. Makanya Tao belum pernah mengalami jatuh cinta sekalipun.

Gēgē enak, bisa menjauh dari mereka dengan menggunakan formalitas.Sedangkan aku sendiri....yah begitulah,” keluh Tao.

“Kau pikir aku didekati oleh mereka merasa senang atau apa?” balas Joonmyeon. “Jadi apa tujuanmu kesini untuk mengingatkanku mengenai masalahmu itu?”

Tao menggelengkan kepalanya. “Tidak hanya itu saja.”

“Lalu?”

Sembari tersenyum ke arah pemandangan kota Seoul yang masih tersuguh di depan kedua matanya. “Aku berniat untuk mencari wanita yang cocok untukku disini. Melihat Heerin yang ramah dengan tulus kepadaku membuatku berpikir kalau mungkin saja ada gadis Korea lain yang berhati baik seperti Heerin,”terang Tao jujur.

Joonmyeon tersenyum kearah Tao. Kagum juga sih melihat saudaranya yang satu itu biasanya bertingkah layaknya anak kecil sudah tumbuh dewasa setelah mereka tidak bertemu selama setahun.

“Pintar juga kau. Menggunakan kesempatan pertukaran pelajar seperti ini sebagai peralihan petualanganmu mencari cinta,” komentar Joonmyeon. Tao terkekeh mendengar komentar saudaranya.

“Memangnya kau saja yang pintar, ? Aku juga tak kalah pintar darimu,” ledek Tao yang diakhiri dengan memeletkan lidahnya. Joonmyeon tertawa sejenak sebelum akhirnya ia membalas saudara jauhnya itu.

~ooooooo~

-Paginya.....-

Di ruang tengah kediaman keluarga Kim, tampak sosok Huang Zitao yang tengah memakan camilannya sembari mencari-cari program televisi yang menurutnya tepat untuk ditonton pada pagi Sabtu yang cerah itu.

Sementara itu di saat bersamaan, sosok Heerin yang sepertinya baru saja sadar dari alam mimpinya memasuki ruang tengah. Tidak lupa ia disapa oleh maid yang ditemuinya di dekat ruang tengah dan tentu saja gadis itu menyapa mereka balik dengan ramah.

Menyadari ada sosok Tao di ruang tengah membuat Heerin teringat dengan tujuan utama mengapa ia pergi ke ruang tengah kediaman keluarga Kim itu.

“Tao-sshi,” panggil Heerin. Yang dipanggil langsung menoleh.

“Oh! Kau sudah bangun, Heerin-sshi?” tanya Tao sembari menyunggingkan senyum manisnya. Melihat itu membuat Heerin membalas senyuman pemuda bermata panda itu dengan senyum ramahnya.

“Tentu saja. Ah iya. Joonmyeon-sunbae eodigasseo?” tanya Heerin akhirnya–itulah tujuan utama ia ke ruang tengah. Mencari Joonmyeon karena ada maksud tertentu.

“Belum lama ini ia pergi ke rumah temannya. Katanya sih mau belajar bersama,” jawab Tao. Memang benar, sih. Tepat setelah sarapan Joonmyeon langsung pamit ingin pergi ke rumah temannya–atau tepatnya seniornya di SMP yang sekarang sudah duduk di bangku SMA– untuk belajar bersama.

“Kalau ahjumma dan ahjussi?” kali ini Heerin menanyai kedua orangtua Joonmyeon.

“Tak lama setelah Junmian-pergi, mereka berdua langsung pergi juga,” mendengar jawaban Tao barusan membuat Heerin menghela nafasnya.

“Aish.....sayang sekali.....” desahnya kecewa.

“Memangnya ada apa?” kini giliran Tao yang bertanya. Tampak jelas sekali kalau gadis itu menanyai makhluk-makhluk (?) yang berstatuskan pemilik rumah karena ada maksudnya.

“Eumm.....begini. Tadi malam teman-temanku mengabariku kalau mereka ingin datang ke rumahku. Tapi yah, kau tahu sendiri ‘kan kalau saat ini aku sedang menumpang di rumahnya Joonmyeon-sunbae?” jelas Heerin. Tao langsung mengangguk paham.

“Ah! Jadi kau mau meminta izin kepada Junmian-serta paman dan bibi kalau teman-temanmu mau datang?” terka Tao yang kemudian disambut anggukan kepala dari Heerin.

Ne. Makanya itu. Kalau aku tidak meminta izin kepada mereka secara langsung aku jadi tidak enak. Dan juga dari minggu lalu teman-temanku sudah merencanakan kalau mereka mau datang ke rumahku minggu ini,” jawab Heerin. “Tapi siapa sangka pada akhirnya minggu ini aku menginap di rumah tetanggaku.”

Tao terkekeh pelan. “Tenang saja. Nanti aku bisa menyampaikannya kepada Junmian-sama paman dan bibi,” mendengar perkataan Tao barusan membuat Heerin merasa agak tidak enak. Pasalnya dia hanya menumpang sementara disini, dan tiba-tiba saja dengan seenaknya (sebenarnya sih menurut Heerin sendiri) ia berkata kalau teman-temannya akan datang kesini.

“T-tapi.....”

“Sudah. Bukannya bibi bilang kalau anggap saja ini rumahmu sendiri?” tukas Tao. “Toh anggap saja aku adalah tuan rumah saat ini. Itu berarti aku mengizinkannya, ‘kan?” tambahnya dan diakhiri dengan cengiran yang terpatri di wajah manisnya.

Heerin terkekeh melihat kelakuan lucu pemuda yang baru dikenalnya kemarin sore itu. Sepertinya perlahan aku bisa membuka diri. Lagipula Tao memang orang yang menyenangkan, batinnya.

~oooooo~


Sebuah pintu kamar di lantai 2 terbuka, menampilkan sosok Heerin yang baru saja selesai mandi. Belum lama ini ia menerima pesan dari Hyunra kalau sebentar lagi ia dan Seungwoo akan datang. Oh iya, bahkan mereka juga mengajak Chanyeol. Atau tepatnya Seungwoo yang mengajak Chanyeol?

Gadis bermarga Shin itu kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai bawah kediaman keluarga Kim. Sesampainya di bawah ia langsung ke ruang tengah kembali, dimana ia menemukan sosok Tao yang masih berkutat dengan televisinya. Tampaknya pemuda Cina itu menyukai drama Korea.

"Jadi temanmu kapan datang?" tanya Tao begitu ia melihat sosok Heerin yang sudah duduk di sebelahnya.

"Katanya sih sebentar lagi," jawab Heerin sembari melirik arlojinya. "Kau tak sabaran sekali bertemu dengan calon-calon teman barumu selama kau disini."


Ya. Rencananya Tao akan menjadi siswa di Jeguk Middle School sampai semester pertama kelas 3 nanti. Dan katanya Tao akan masuk ke kelas 1-7 nanti. Yang berarti itu adalah kelas Heerin.

Sambil menyunggingkan cenginrannya, Tao mengangguk dengan semangat. "Habisnya aku tidak semangat ingin berkenalan dengan teman-teman baruku nanti," ujarnya. Membuat Heerin yang mendengarnya jadi tertawa pelan.

Saat sedang asyik berbincang tampak sosok Sung-ahjussi tengah berjalan menghampiri mereka berdua.

"Nona muda, ada yang datang mencari Anda," ucap Sung-ahjussi. Mendengar ucapan butler yang sudah cukup berusia itu membuat Heerin langsung beranjak dari sofa yang sedari tadi ia duduki.

"Ah, jinjja?" tanya Heerin memastikan. Sung-ahjussi mengangguk. Heerin sempat menoleh ke arah Tao bermaksud menyuruhnya untuk menunggu sebentar yang kemudian disambut dari pemuda berkantung mata itu. Kemudian Heerin berlalu ke arah pintu depan untuk menemui teman-temannya yang sudah menunggu.

Dan benar saja. Tampak sosok Hyunra, Seungwoo, serta Chanyeol yang tengah menatap kagum seisi rumah itu.

"Annyeong, yaedeura~" sapa Heerin. Yang disapa langsung menoleh. Hyunra dan Seungwoo pun langsung menghampiri sahabat mereka yang paling tua diantara mereka bertiga.

"Wah~ Rumah ini begitu megah, Heerin-ah!" seru Seungwoo kagum. Membuat orang-orang yang ada di tempat itu langsung terkekeh karena kelakuan Seungwoo.

"Apa tidak apa-apa, Heerin-ah? Bagaimanapun juga ini bukan rumahmu, 'kan?" tanya Hyunra agak ragu. Heerin menggelengkan kepalanya.

"Gwaenchana. Aku sudah meminta izin, kok. Dan untungnya diizinkan," jawab Heerin. "Apalagi kau tahu sendiri 'kan kalau kunci rumahku dibawa oleh kedua orangtuaku."

Heerin pun menoleh ke arah Chanyeol yang sedari tadi berdiri di belakang Hyunra dan Seungwoo. "Ah. Annyeong haseyo, Chanyeol."

Pemuda bermarga Park itu menyunggingkan senyum khasnya sembari berkata, "Tidak usah sesopan itu. Kita 'kan teman sekelas, Heerin-ah!" Heerin menatap Chanyeol dengan tatapan kagum. Ia benar-benar cocok dengan Seungwoo, pikirnya.

Di saat itu, Tao datang menghampiri Heerin yang masih asyik bersama teman-temannya.

"Heerin-sshi, tadi Junmian-mengirimiku pesan. Dia menanyaiku soal teman-temanmu yang mau da—"

Tetapi ucapan Tao seketika terhenti tatkala ia menatap sesuatu yang menangkap pandangan serta perhatiannya.

Sesuatu yang berwujud sosok manusia. Tepatnya seorang perempuan berambut panjang, berkulit putih, dan tampak begitu manis yang Tao asumsikan sebagai salah satu teman Heerin yang mau berkunjung.

Tao terpaku di tempatnya. Ia langsung lupa tujuannya menghampiri Heerin tadi. Pemuda itu sudah terlanjur terpesona dengan apa yang tersedia di hadapannya saat ini.



D-dia.......... dia.........



"Waeyo, Tao-sshi?" tanya Heerin karena tiba-tiba Tao menghentikan ucapannya seketika. "Joonmyeon-sunbaenim mengatakan apa padamu?"

Sadar kalau dirinya tengah ditanyai perhatian Tao langsung teralihkan kepada Heerin yang tengah menatapnya bingung. "A-ah, itu.....t-tadi....J-Junmian-bertanya......siapa saja teman-temanmu yang datang....." jawab Tao terbata-bata.

Hyunra yang dari awal sudah agak khawatir dengan kunjungan mereka ke rumah—tetangganya—Heerin akhirnya menanyai pemuda kelahiran Qingdao itu.

"Mianhae. Sebenarnya kami tidak bermaksud untuk datang ke sini mengingat ini bukan rumahnya Heerin, tapi—"

"Aniya!" Tao memotong ucapan Hyunra. Kemudian ia tersentak dengan ucapannya sendiri sebelum ia akhirnya berkata, "T-tidak, kok..... Tidak apa-apa. Toh aku juga sudah mengizinkan Heerin kalau kalian mau datang pun tidak masalah."

Dalam hati ia merutuki dirinya yang langsung bertindak ceroboh begitu ia bertatapan mata dengan gadis itu. Gadis yang langsung mengalihkan perhatiannya dari bumi yang ia pijaki saat ini.

"Ah geurae?" tanya Hyunra meyakinkan. Tao menganggukkan kepalanya dengan begitu yakin.

"Ne. Kalau mau sering datang kesini pun juga tidak apa-apa—" Tao langsung membekap mulutnya dengan kedua tangannya begitu ia menyadari apa yang ia ucapkan tadi. Tapi tampaknya tak ada yang memerhatikan karena ia mengucapkan kalimatnya dengan begitu cepat—saking gugupnya.

Hyunra pun mengulurkan senyumnya. "Baiklah kalau begitu," ucapnya kemudian.

"Ah iya! Aku lupa!" Heerin menepuk keningnya pelan. "Yeorobun, kenalkan. Dia Huang Zitao. Tao-sshi. Ini teman-temanku," gadis bermarga Shin itu akhirnya memperkenalkan Tao kepada teman-temannya begitu pula sebaliknya.

Mengingat situasi kalau ia belum kenal dengan teman-teman Heerin, Tao langsung membungkukkan badannya. "Annyeong haseyo. Huang Zitao imnida," katanya yang sudah tidak segugup tadi.

Kini giliran Seungwoo yang membuka mulutnya. "Eh? Kau orang Cina?" tanya Seungwoo. Yang ditanya menganggukkan kepalanya.

"Pantas saja namanya tidak seperti nama orang Korea pada umumnya walaupun ada 'Huang'-nya," gumam Chanyeol namun masih terdengar dalam indera pendengaran teman-temannya dan juga Tao.

Kedua mata Hyunra berbinar-binar. "Cina? Waah~ Dari dulu aku ingin sekali mengunjungi Cina dan juga mencoba berteman dengan orang Cina~" ujarnya.

Tao tersenyum mendengar pujian yang diberikan kepadanya. Tampaknya pembicaraannya dengan Joonmyeon tadi malam berbuah hasil. Hasil yang sangat bagus pula.

Baru sehari disini pun seorang Huang Zitao sudah jatuh cinta pada pandangan pertama......






"Manaseo bangapseumnida, Tao-sshi! Aku harap kita bisa berteman dengan baik!"





pada seorang gadis muda bernama Park Hyunra.



-To be Continued...-

~oooooo~


MUAHAHAHAHAHAH akhirnya bisa update juga~ Semua karena UTS menyebalkan. Udah gitu kemarin Minggu itu mau sempet update tapi karena saya kecapekan gara-gara habis dari Kota Kasablanka demi KTO saya langsung tepar begitu sampai rumah. Terus kemarin-kemarin juga udah masuk sekolah seperti biasa huftie :( Pokoknya saya senang karena akhirnya bisa update juga

Anyway, review? ^^

1 comments:

Hyun Ra Park said...

ALASKDJASKLJDSLFS LO HARUS TAU PAS BACA BAGIAN TERAKHIR MUKA GUE LANGSUNG MERAAAHHH O/////O WKWKWKK

btw fanfic lo makin keren ih. gak ada kata lain selain "Shin heerin jjangiji!!" ><

Post a Comment

 
;