Sunday, April 20, 2014

[Fanfiction] The Beginning (Chapter 3)

Title: The Beginning

Chapter: 3/? [Going Home]


Genre: Romance, Comedy, (a little bit of) School-life

Rate: PG-12

Disclaimer: Plot belongs to me yet inspirated from my friend's fic (you can check it in here. The title of the fic is 'Between You and Me').

Cast:
-EXO members
-Original Characters

Summary: Pertemuan pertama pasangan yang kalian kira manis awalnya tidak semanis yang kalian kira.

Author notes: part 3 pun sudah jadi~ saat ini sebenernya saya lagi ga enak badan tapi saya tetap berniat ingin melanjutkannya huhuhuhuh ;w; padahal besok baru UTS di sekolah OTL
Anyway, happy reading~ ^^


~ooooooo~

Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para guru yang tadinya sibuk mengajar di kelas akhirnya mengakhiri pelajaran dan kemudian keluar dari kelas tempat mereka mengajar menuju ruang guru. Sementara itu para murid langsung mengemas barang-barang mereka ke dalam tas kemudian mengambil tas mereka dan pulang. Rutinitas yang selalu terjadi ketika jam sekolah telah berakhir, hmm.

Sementara itu Heerin masih sibuk dengan memasukkan barang-barangnya setelah ia baru saja selesai mencatat materi di papan tulis ke dalam buku catatannya. Tidak lupa ia mengecek kembali apakah masih ada barangnya yang tertinggal.

Ya! Heerin-ah!” panggil seseorang dari arah depan kelas. Heerin sempat menoleh sekilas ke arah sumber suara sebelum akhirnya ia kembali sibuk dengan kegiatan memeriksa apakah ada barang-barangnya yang tertinggal.

Waeyo, Seungwoo-ah?” tanya Heerin begitu ia menyadari Seungwoo berada di dekatnya saat ini.

Ani. Kau kapan pulang? Kau ditunggu Hyunra. Dia ingin mengajakmu pulang bersama, tuh,” jawab Seungwoo.

“Lah? Memangnya kau sendiri mau kemana?” tanya Heerin lagi, kali ini menatap lawan bicaranya setelah ia mengambil tasnya. Dapat dilihatnya kini wajah Seungwoo yang bersemu merah serta gadis yang lebih muda darinya itu kini tengah memainkan jemari tangannya, seolah sedang salah tingkah.

“Eumm.....itu. K-kau tahu ‘kan aku baru saja jadian dengan Park Chanyeol.....” ucap Seungwoo agak terbata-bata. Tanpa menunggu lanjutan dari perkataan Seungwoo, Heerin sudah bisa menebaknya.

“Ah jadi dia mengajakmu berkencan, begitu?” terka Heerin dengan senyum penuh makna yang terpatri di wajahnya. Seungwoo agak tersentak mendengar terkaan temannya barusan. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya perlahan.

Ne.....t-tapi kau tidak marah ‘kan kalau aku tidak bisa pulang bersama kalian?!? Habisnya aku tidak enak sama kalian berdua.....” panik Seungwoo. Heerin menggelengkan kepalanya.

Aniya. Buat apa kami marah? Lagipula juga justru kami berdua malah terharu karena akhirnya uri maknae sudah dewasa,” ujar Heerin. Seungwoo merasa senang mendengar ucapan temannya yang mempunyai pembawaan tenang dan dewasa ini.

Gomapta, Heerin-eon..... AUW!!” tiba-tiba Seungwoo berteriak kesakitan saat merasakan sesuatu mengenai kepalanya. Begitu ia menoleh, ia menyadari kalau ada seseorang yang melemparinya penghapus tepat mengenai kepalanya. Dan ketika Seungwoo siapa orang tersebut......

YA! KIM JONGDAE! APA MAUMU, HAH?!?!?” teriak Seungwoo murka begitu mendapati sosok Jongdae yang tengah memegang katapel di tangannya. Pemuda dengan struktur wajah berbentuk kotak (?) itu tertawa puas melihat korbannya murka.

“Tangkap aku kalau bisa~” tantang Jongdae yang kemudian melesat keluar dari ruang kelas 1-7. Merasa tertantang, Seungwoo pun langsung mengejar pemuda yang sejak dari awal mereka bertemu pemuda itu langsung mengerjai Seungwoo entah karena apa.

Melihat teman dekatnya yang sudah melesat keluar kelas itu membuat Heerin menggelengkan kepalanya seraya bergumam “Dasar”. Akhirnya gadis bermarga Shin itu keluar dari kelasnya, melangkahkan kedua kakinya ke arah gerbang sekolah.


Begitu ia berada di dekat gerbang, dahi Heerin mengernyit kala ia mendapati sosok pemuda yang tidak asing dalam pandangannya tengah bersandar pada dinding gerbang sekolah.

Kukira dia akan langsung pulang, batin Heerin. Gadis itu berjalan mendekati sosok pemuda yang masih setia bersandar pada dinding gerbang sekolah.

Sunbae belum pulang?” tanya Heerin to the point begitu ia sudah berdiri di samping pemuda yang tak lain Joonmyeon itu. Merasa ditanyai, Joonmyeon menoleh ke arah suara dan mendapati orang yang ditunggunya telah datang.

Sembari menunjukkan angelic smile yang sudah menjadi trademark-nya, Joonmyeon menjawab–atau tepatnya bertanya balik, “Aku menunggumu daritadi. Kau tahu itu berbahaya ‘kan kalau seorang gadis pulang sendirian tanpa ada yang menjemputnya?” Pemuda itu berbalik, bersiap untuk pulang.

Sementara Heerin sendiri tertegun mendengar ucapan Joonmyeon barusan. Tetapi kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya. Itu hanya formalitas, Heerin-ah. Dia begini hanya karena kau adalah anak dari teman dekat orangtuanya, sugesti Heerin pada otaknya.

“Hei,” tiba-tiba terdengar suara Joonmyeon memanggilnya. “Kau mau pulang atau tidak?”

Tersentak mendengar suara Joonmyeon memanggilnya, Heerin pun mendekati Joonmyeon. Akhirnya mereka berdua pun pulang bersama ke rumah Joonmyeon. Ingat, Heerin baru saja menginap di rumah Joonmyeon kemarin, bukan?

Di perjalanan pulang pun keheningan terasa di antara mereka. Tepatnya keheningan yang awkward. Joonmyeon yang sebenarnya merasakan kalau keheningan yang tercipta di antara mereka begitu awkward. Ia tengah berpikir bagaimana agar gadis yang berjalan di sampingnya ini bisa membuka diri terhadap Joonmyeon.

Sementara Heerin? Gadis itu tampaknya biasa-biasa saja. Malah kini ia tengah sibuk dengan ponselnya, seolah tak menyadari kalau sosok disampingnya tengah berkeluh kesah karena ingin mengajak Heerin mengobrol walau hanya 1 kata saja.

Joonmyeon sendiri juga heran. Biasanya ia gampang-gampang saja mengajak bicara orang lain yang baru ditemuinya. Hanya saja Heerin terlalu berbeda. Ia tampak tidak begitu bersahabat yang membuat Joonmyeon terkadang berpikir apa benar Heerin yang dingin adalah adik dari Minseok yang hangat itu.

Sunbae kalau mau bicara, bicara saja,” dan tampaknya Heerin menyadari keluh kesah yang tengah dihadapi oleh pemuda bermarga Kim itu. Tentu saja Joonmyeon tersentak mendengar perkataan Heerin barusan.

“E-eh?”

“Jangan pura-pura bingung. Kalau mau bicara padaku, bicarakan hal yang memang penting saja,” ujar Heerin dingin (setidaknya menurut Joonmyeon).

Joonmyeon menghela napasnya mendengar ujaran dingin yang keluar dari bibir gadis itu. Mau sampai kapan Heerin akan bersikap dingin kepadanya terus? Untung saja gadis itu akan dirumahnya sampai hari Minggu nanti, pikir Joonmyeon. Untung saja mereka hanya pulang bersama pada hari ini saja–karena Joonmyeon dipaksa ibunya agar pemuda itu pulang bersama Heerin dari sekolah.

Sunbaenim,” akhirnya Heerin yang memutuskan bicara duluan. “Kau tidak apa-apa kalau kau pulang bersamaku?”

“Eh? Maksudmu?”

“Kau ‘kan dikenal sebagai ‘pangeran sekolah’. Kalau misalnya penggemar-penggemarmu melihatmu jalan bersamaku, yang notabene masih kelas 1, apa mereka tidak akan marah?” Heerin memperjelas pertanyaannya barusan. Barulah Joonmyeon paham maksud pertanyaan Heerin.

Siapa sangka ternyata gadis ini mempunyai kehati-hatian yang tinggi walaupun dari luar ia terlihat cuek dan dingin.

“Ah itu. Kau lihat sendiri ‘kan tadi sekolah sudah sepi? Jadi mumpung sekolah sudah sepi, perjalanan pulang kita bisa terbebas dari gangguan seperti itu,” terang Joonmyeon. Toh kita hanya pulang bersama pada hari ini saja, lanjutnya dalam hati.

“Ternyata kau takut juga ya pada penggemar-penggemarmu,” tukas Heerin.

“Bukan begitu,” kilah Joonmyeon. “Aku lebih takut lagi kalau kau yang diapa-apakan oleh mereka.”

Heerin langsung menghentikan langkahnya begitu ia mendengar perkataan Joonmyeon tadi. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan tak percaya. Sembari itu, batinnya terus ia coba tanami dengan sugesti kuat kalau ‘Joonmyeon bersikap seperti itu kepadanya hanya karena formalitas saja’.

“Kau orang aneh, Joonmyeon-sunbae,” ucap Heerin pada akhirnya yang kemudian berniat melanjutkan perjalanan pulangnya. Sementara itu Joonmyeon tersenyum simpul ke arah gadis itu.

Setidaknya ia masih mau mendengar ucapanku walaupun sikapnya kepadaku seperti itu, Joonmyeon berusaha berpikir positif. Mereka berdua pun kembali melangkah menuju kediaman keluarga Kim.

Tiba-tiba ponsel Heerin berdering. Menandakan adanya panggilan masuk dari Hyunra.

“Eh? Ada apa dia meneleponku?” gumam Heerin pelan namun masih terdengar oleh telinga Joonmyeon. Heerin pun menerima panggilan masuk dari teman dekatnya itu.

Wae, Hyunni—“

YA! NEO EODINYA?!?!” teriak suara Hyunra di seberang sana yang sukses membuat Heerin menjauhkan telinganya dari ponselnya. Bahkan sampai tertangkap dalam indera pendengaran Joonmyeon juga.
“Aish.....ya! Bisakah kau tidak berteriak seperti itu?!? Kau mau menulikan telingaku, eoh?!?!” balas Heerin tak kalah kesal.

Beraninya kau marah-marah padaku. HARUSNYA AKU YANG MARAH PADAMU! KAU DIMANA?!?!” omel Hyunra lagi.

“Di jalan pulang. Wae?”

MWORAGO?! Kau sudah pulang?!? Dasar pengkhianat!

Ya! Apa-apaan kau menyebutku pengkhianat?!?” omel Heerin tak terima dikatai pengkhianat. Tanpa ia sadari, Joonmyeon kini tengah tertawa pelan karena pembicaraan telepon yang unik itu.

Tentu saja aku menyebutmu pengkhianat! Bukannya harusnya kita pulang bersama?! Aku masih menunggu di kafe dekat sekolah kita sedangkan kau dengan teganya pulang duluan meninggalkanku!

Heerin membatu sejenak. Dia baru teringat satu hal. Harusnya tadi ‘kan dia pulang bersama Hyunra, bukan bersama Joonmyeon.....

OMO!” pekik Heerin yang akhirnya teringat dengan janjinya tadi. “Aish.....mianhae, Hyunra-ah. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendirian.....” dan setelah itu terdengarlah pintaan Heerin yang berusaha mendapatkan maaf dari Hyunra karena dengan teganya (?) meninggalkan Hyunra sendirian.

Lagi, tanpa Heerin sadari, Joonmyeon kini tengah menatapnya dengan tatapan penuh makna. Heerin yang ia lihat saat ini bukanlah Heerin yang biasanya memancarkan aura dingin kepada orang asing. Ia bisa merasa kalau Heerin yang ia lihat sekarang adalah Heerin yang sebenarnya.

Dan tampaknya ia harus memuji kejeniusan Luhan tadi pagi. Karena tebakan pemuda Cina itu yang mengatakan kalau Joonmyeon tertarik dengan Heerin ada benarnya.

Namun satu yang kurang dalam hipotesa pemuda Cina dengan mata mirip rusa betina itu.

Kalau Joonmyeon berniat ingin mencairkan es yang menjadi pelindung gadis yang masih meminta maaf pada temannya di telepon saat ini.

~ooooooo~

0 comments:

Post a Comment

 
;