Monday, September 9, 2013

[Fanfiction] 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty) — Chapter 2

Title: 늑대와 미녀 (The Wolf and The Beauty)

Genre: Romance, Fantasy, School-life (sort of)

Rate: PG-14

Cast:
-EXO members                                                         -etc.
-Original Characters

Disclaimer: I do not own any casts—except original characters. Plot is inspirated by EXO's '늑대와 미녀 (Wolf)' and (maybe) Stephenie Meyer's 'Twilight'.

Status: On-going

Chapter: 2/? (First Day)

Language: Indonesian

============================================================




Forewords herePrevious chapter 1

*************

-06.41 KST, Heerin's house...-
Hari ini adalah hari pertama Heerin kuliah di kampusnya yang baru, yakni Neukda University. Sebenarnya kuliahnya baru jam setengah 9 nanti, namun karena sebelumnya ia harus mengurusi administrasi serta kepindahannya terlebih dahulu makanya Heerin bangun lebih pagi.

Saat ini ia tengah sarapan bersama ayahnya. Menu sarapan mereka pagi ini adalah pancake yang juga dibuat oleh mereka berdua. Sungguh pasangan ayah dan anak yang serasi, hm? Mereka pun makan dalam keadaan tenang hingga akhirnya ayah Heerin memutuskan untuk mengajak Heerin berbicara. Menurutnya makan dalam tenang itu tidak terlalu menyenangkan. Sesekali harus ada sedikit pembicaraan menurutnya.

"Jadi, Heerin-ah," mulai ayah Heerin. "Kau memutuskan untuk masuk jurusan apa?" tanya ayah Heerin.

Setelah menelan potongan pancake-nya, Heerin menjawab, "Aku memutuskan untuk masuk jurusan sastra dan kebudayaan Korea."

"Sastra dan kebudayaan Korea? Padahal nilaimu bisa mengantarmu ke jurusan hubungan internasional. Bukannya dulu kau ingin sekali masuk jurusan itu?"

Heerin menggelengkan kepalanya. "Setelah kupikir-pikir, aku lebih menyukai mempelajari kebudayaan negaraku sendiri. Waeyo, appa? Apa pilihanku salah?"

Ayah Heerin tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Sembari membelai pucuk kepala putrinya ia berkata, "Ani, Heerin-ah. Selama itu pilihan yang terbaik bagimu, kenapa tidak?"

Heerin tersenyum mendengar perkataan ayahnya. Inilah yang ia sukai dari orangtuanya; ayah dan ibunya mau mendukung keputusan yang dibuat oleh Heerin sendiri selama keputusan itu memiliki makna positif. Makanya Heerin amat menyayangkan perceraian kedua orangtuanya. Namun mau dikata apa lagi? Nasi sudah menjadi bubur. Keputusan sudah telak dan tak dapat diubah lagi.

"Sepertinya kita harus segera berangkat. Jangan lupa cuci piringmu terlebih dahulu, Heerin-ah," titah ayah Heerin yang disambut anggukan dari putrinya.

Setelah mencuci piring dan tidak lupa mengambil tasnya yang ia taruh di dekat meja makan, Heerin dan ayahnya berjalan keluar dari rumah–tenang saja, mereka tidak lupa mengunci rumah, kok. Mereka pun masuk ke dalam mobil dengan (tentunya) ayah Heerin yang membawa mobil. Mobil berwarna silver itu melaju menuju Neukda University yang berjarak kurang lebih 7 kilometer dari rumah Heerin.

                                                                      *************

"Kau yakin kau bisa mengurusnya sendiri, Heerin-ah?" tanya ayah Heerin dengan nada agak ragu saat Heerin baru saja mau turun dari mobil. Maksud dari pertanyaan ayah Heerin itu adalah apa Heerin bisa mengurus data administrasi kepindahannya sendiri mengingat ayahnya yang akhir-akhir ini sedang sibuk mengurusi kasus-kasus yang terjadi di Neukda-maeul.

"Tentu saja tidak apa-apa, appa. Lagipula kau 'kan sedang mengurusi berbagai kasus akhir ini. Pasti orang-orang bagian tata usaha universitas ini bisa mengerti kesibukan appa," jawab Heerin panjang lebar yang membuat ayahnya tersenyum. Ia kembali membelai pucuk kepala putrinya itu.

"Kalau begitu, hati-hati ya Heerin-ah. Hati-hati jika ada orang asing mencurigakan yang mencoba mengajakmu berbicara," peringat ayah Heerin yang membuat Heerin memutar bola matanya.

"Aku bukan anak kecil lagi, appa. Lagipula juga tidak ada yang berani menculik anak kepala polisi sepertiku ini," ujar Heerin percaya diri yang membuat ayahnya tertawa kecil.

"Baiklah. Annyeong, appa," sesudah berpamitan, Heerin pun turun dari mobil ayahnya. Tak lama setelah Heerin turun, mobil ayahnya mulai melaju meninggalkan kawasan universitas.

Setelah mobil ayahnya menghilang dari pandangan Heerin, gadis berkacamata itu berjalan memasuki kampus barunya.


                                                                     *************

Heerin baru saja berjalan keluar dari ruang administrasi Neukda University menuju ruang kelasnya. Ia agak malu saat ia berjalan di koridor karena banyak orang-orang yang melihat dirinya seolah mereka tak pernah melihatnya sebelumnya. Makanya ia berjalan sembari menundukkan kepalanya, hingga akhirnya......

BRUGH!

......tanpa sengaja seseorang menabrak Heerin dari arah barat Heerin berjalan. Buku-buku yang dipegang oleh Heerin langsung terjatuh ke lantai mengingat tabrakan antara Heerin dan penabrak-nya cukup keras.

Gadis bermarga Shin itu langsung berjongkok untuk mengambil buku-bukunya itu. Dan dengan baiknya orang yang menabrak Heerin tadi membantu Heerin mengambil buku-buku milik gadis itu.

"Chwesonghabnida, agasshi. Tadi aku berjalan terlalu cepat sampai aku tidak melihatmu," ucap orang yang sepertinya laki-laki itu.

"Ani, ani. Na gwaencha---"

Ucapan Heerin langsung terhenti seketika ia melihat wajah dari penabrak-nya tadi.

Seorang pemuda tampan nan manis berkulit putih dengan rambut hitam adalah yang didapati Heerin saat ini. Sorot mata pemuda itu cukup tegas–mungkin karena contact lens-nya yang berwarna abu-abu, namun masih menyiratkan makna yang lembut dalam tatapannya.

Tampan sekali, batin Heerin yang terkagum-kagum akan pesona pemuda itu.

"Sekali lagi, maaf, agasshi. Oh iya, ini buku-bukumu," kata pemuda itu sembari memberikan buku-buku yang ia ambil kepada Heerin, yang menerimanya dengan tangan kanannya yang gemetaran. Setelahnya mereka berdua pun beranjak berdiri.

"Kalau begitu aku duluan ne, agasshi. Annyeong," setelah berkata seperti itu, pemuda tampan itu langsung pergi meninggalkan Heerin yang masih berdiri diam di tempatnya. Nampaknya gadis itu masih terpesona. Apalagi saat berpamitan kepada Heerin sebelumnya pemuda tampan itu menyunggingkan senyum ramahnya.

Ya Tuhan........bahkan saat tersenyum saja ia menjadi lebih tampan. Aish! Bahkan aku tidak tahu siapa namanya......... batin Heerin yang diakhiri dengan rutukan karena ia tidak tahu nama dari pemuda yang menabraknya tadi.

Tapi ngomong-ngomong aku baru tahu ada contact lens berwarna seperti itu. Beli dimana ya? tanya Heerin (masih) dalam hati saat mengingat mata pemuda tadi yang berwarna abu-abu. Namun kemudian Heerin memutuskan untuk tidak mempedulikannya. Toh, ia harus ke kelas bukan?

Setelah merapikan buku-bukunya, Heerin pun berjalan menuju kelasnya.

"Cheogiyo."

Sebenarnya sih, Heerin baru saja mau melangkahkan kakinya menuju kelasnya kalau tidak ada yang memanggilnya.

Heerin menoleh ke arah belakang dimana ia mendapati seorang gadis berbadan lebih tinggi darinya tengah berjalan kearah dirinya.

Sesampainya di hadapan Heerin, dengan wajah polos gadis berbadan tinggi itu mulai membuka suara.

"Neo............ Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa kau mahasiswa pindahan?" tanya gadis asing itu.

Heerin mengernyitkan dahinya. Kemudian menjawab dengan agak hati-hati, "Ne. Aku mahasiswa pindahan."

Wajah gadis asing itu langsung mencerah. "Jadi kau mahasiswa pindahan? Waah! Neo ireumeun mwoeyo?" tanpa sungkan-sungkan gadis asing itu langsung menanyakan nama Heerin.

Masih dengan nada hati-hati, Heerin menjawab, "Shin Heerin imnida."

"Naneun Choi Ahyoung imnida! Manaseo bangapseubnida, Heerin-ah!" seru gadis bernama Ahyoung itu dengan semangat. Ia langsung memeluk Heerin tanpa merasa sungkan sama sekali.

Langsung. Memeluk. Heerin.

APA-APAAN GADIS INI?!?!?!, omel Heerin dalam hati. Ia merasa jengkel dengan gadis asing bernama Ahyoung ini yang langsung sok dekat dengannya. Bahkan sampai memeluknya. Heerin paling tidak suka dengan skinship yang dilakukan oleh orang asing kepadanya. Aku ini bahkan bukan ibunya, batin Heerin jengkel.

"Kau kuliah di jurusan apa, Heerin-ah?" tanya Ahyoung dengan akrab.

"Sastra dan kebudayaan Korea," jawab Heerin datar. Ahyoung menganggukkan kepalanya dengan mulut yang membentuk huruf 'o'.

"Kalau aku jurusan matematika IPA. Tapi jurusan sastra dan kebudayaan Korea menyenangkan sih hehehe," ujar Ahyoung polos.

Aku tidak menanyakan kau kuliah di jurusan apa dan pendapatmu mengenai jurusan kuliahku, rengut Heerin dalam hati. Bagaimanapun juga ia harus melarikan diri dari gadis asing–mereka kan belum begitu mengenal satu sama lain, menurut Heerin–ini.

"Maaf. Aku harus segera pergi. Kelasku akan dimulai sebentar lagi," kata Heerin cepat dan tanpa mengucapkan "Annyeong" ia langsung berjalan cepat meninggalkan Ahyoung.

"Baiklah! Sampai bertemu istirahat nanti, Heerin-ah~" seru Ahyoung yang melambaikan tangannya kearah Heerin–walau Heerin tidak melihatnya.

"Jangan harap," gumam Heerin pelan. Ia tetap berjalan menuju kelasnya.
                                                                     *************

Ternyata hari pertama Heerin kuliah cukup menyenangkan. Dosen yang ramah, teman-teman baru yang menyenangkan, materi kuliah yang menarik dan tidak membosankan............benar-benar sesuai dengan perkuliahan yang Heerin idamkan selama ini.

Well, kecuali satu hal.

Saat Heerin berjalan keluar dari kelasnya menuju kantin, betapa terkejutnya gadis berambut pendek itu saat mendapati Ahyoung yang berdiri di dekat pintu ruang kelas Heerin. Tanpa ragu lagi, Ahyoung langsung menyeret Heerin menuju kantin.

Sebenarnya Heerin ingin sekali mengomeli gadis berbadan tinggi itu. Namun melihat raut wajah Ahyoung yang polos dan tidak pantas untuk dimarah-marahi membuat Heerin hanya bisa menghela nafasnya.

Sesampainya di kantin, Heerin langsung diseret Ahyoung menuju sebuah meja yang berisikan sekitar tujuh gadis yang tengah bercengkerama.

"Annyeong, yeorobun!" sapa Ahyoung kepada ketujuh gadis yang sepertinya teman dekatnya itu. Ketujuh gadis itu menoleh dan langsung membalas sapaan teman mereka itu.

"Annyeong, Ahyoungi---- chamkanman. Kau membawa siapa, Ahyoung?" tanya seorang gadis berwajah dewasa dan berambut panjang berwarna cokelat saat menyadari keberadaan Heerin disamping Ahyoung.

"Namanya Shin Heerin, Chanrin-eonni. Heerin, duduk santai saja," kata Ahyoung. Dengan perasaan ragu, Heerin duduk di salah satu bangku yang kosong. Ahyoung pun duduk di sebelah Heerin.

"Apa kau anak baru?" tanya gadis dengan rambut yang agak bergelombang yang duduk tepat di depan Heerin. Seketika Heerin menjadi merasa gugup. Ia merasa dirinya tengah diinterogasi.

"N-ne........a-aku anak........ba-baru......" jawab Heerin terbata-bata.

"Pindahan dari mana?" tanya gadis berambut hitam panjang yang duduk di sebelah gadis yang rambutnya bergelombang tadi.

"D-dari.......... B-Belanda........" jawab Heerin.

"JEONGMALYO?!" teriak semua gadis yang ada di meja itu (kecuali Heerin tentunya) dengan serempak.

"Waah...... Jarang sekali kita bisa menemukan orang Belanda seperti Cheonsa dan Seungwoo disini. Benar begitu 'kan?" tanya gadis yang berpenampilan agak tomboy (walaupun rambutnya panjang juga. Hampir semua gadis-gadis ini berambut panjang) kepada gadis yang bertubuh lebih pendek darinya dan memakai kacamata yang duduk di samping gadis tomboy itu.

"Ne. Ah iya! Kita belum berkenalan, Heerin-sshi! Naneun Lee Seungwoo imnida," ucap gadis berkacamata itu seraya memperkenalkan dirinya kepada Heerin.

"Naega Park Hyunra imnida," kata gadis tomboy yang duduk di sebelah Seungwoo itu.

"Lee Chanrin imnida. Senang bertemu denganmu, Heerin," kata gadis yang dipanggil 'Chanrin eonni' oleh Ahyoung tadi sembari menunjukkan senyum ramahnya kepada Heerin.

"Seo Minhae imnida," kata gadis berambut panjang hitam tadi yang juga tersenyum ramah.

"Lee Songeul imnida," kata gadis berambut bergelombang yang duduk di sebelah Minhae. Tubuhnya juga mungil, namun tidak semungil Seungwoo yang sepertinya bertubuh paling mungil diantara kawanan itu.

"Cho Minhyun imnida," kata seorang gadis berkacamata lainnya yang sedari tadi duduk diam saja di sebelah kiri Minhae.

"Im Cheonsa imnida," kata seorang gadis bermata besar dengan nada cukup bersemangat.

"Manaseo bangapseubnida, Heerin!" seru ketujuh gadis yang baru saja memperkenalkan diri mereka dengan (lagi-lagi) serempak. Heerin yang mendengarnya jadi tersenyum.

"Nah. Karena kita semua sudah berku....... tunggu. Ada yang belum datang," kata Ahyoung saat menyadari ada beberapa temannya yang belum datang.

"Aish. Kau seperti tidak tahu mereka yang belum datang sa---"

"MAAF KAMI TERLAMBAT!" teriak sebuah.......ah, tidak, tapi tiga macam suara yang berasal dari belakang Heerin. Ternyata suara-suara itu berasal dari tiga gadis lainnya yang baru saja datang. Mereka segera duduk di tempat yang masih kosong

"Kalian datang terlambat saja sudah biasa bagi kami, kok. 'Kan kalian itu 'sibuk'," sahut kedelapan gadis yang duduk di meja itu dengan nada datar. Salah satu dari ketiga gadis yang baru datang, yakni gadis bertubuh pendek, pipi yang lumayan tembam alias chubby, serta berambut sebahu dan bergelombang memasang wajah cemberutnya karena perkataan teman-temannya tadi.

"Uwaah~~ Uri Chika neomu kwiyeowo~~" Chanrin dan Cheonsa segera menghampiri dan kemudian mencubit pipi gadis bernama Chika itu dengan gemas.

"Hyaa! Hajimaa~" pinta Chika kesal saat seperti biasanya, kedua temannya itu mencubit pipinya yang chubby itu.

Heerin yang disuguhi pemandangan seperti itu hanya bisa tersenyum geli. Setidaknya mereka tampak seperti orang-orang yang baik. Termasuk Ahyoung, batinnya.

"Oh iya. Aku baru sadar kalau ada orang baru disini," ujar seorang gadis bertubuh pendek seperti Chika dan berambut panjang dan lurus yang bagian atasnya berwarna merah sementara bagian bawahnya berwarna hitam.

"Ah, ne..... Aku juga baru menyadarinya," sahut gadis yang duduk di sebelah gadis berambut setengah merah (?) itu sambil menatap Heerin.

"Dia teman baru kita. Namanya Shin Heerin," terang Minhae singkat.

"Teman baru kita? Wah! SogaehaetdaNae ireumeun Gong Ryujin imnida. Aku adalah visual diantara yang lain," kata gadis berambut setengah merah yang bernama Ryujin itu dengan percaya diri.

"Jangan bermimpi kau, Ryujin. Visual kita ini Cheonsa, bukan kau," ledek Hyunra dengan nada (sok) sinis.

"Tapi aku tidak kalah cantik dari Cheonsa, kok," sanggah Ryujin tidak mau kalah.

"Aniya. Lebih cantik Cheonsa tentunya," sahut Chika sambil tersenyum meledek.

"Lagipula Cheonsa itu lebih tinggi daripada kau, Ryujinnie~" ujar Ahyoung yang paling semangat meledek Ryujin kalau soal tinggi badan. Dan tentu saja itu sukses membuat gadis bermarga Gong itu merengut sebal yang disambut dengan tos dari Hyunra, Chika, dan Ahyoung.

"Ah iya. Aku belum berkenalan dengan Heerin. Park Chika imnida. Senang bertemu denganmu, Heerin," kata Chika sambil menunjukkan senyum bocah-nya (?) kepada Heerin.

"Naega Han Daeyeon imnidaBangapta, Heerin," kata gadis yang duduk di sebelah Ryujin sambil tersenyum ramah.

"Ne. Nado bangaweoyo," tukas Heerin yang menunjukkan senyumnya. Ia pun mulai mencoba mengakrabkan diri dengan sebelas teman barunya itu. Benar dugaannya, mereka memang orang yang ramah-ramah. Dalam sekejap ia sudah menjadi bagian dari mereka.

Tiba-tiba pintu kantin terbuka dengan agak nyaring membuat semua orang yang ada di kantin menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara. Masuklah 12 laki-laki tampan nan memesona dengan gaya jalan yang nampak begitu anggun.

"Omo. Mereka datang," gumam Songeul pelan.

"Para pangeran telah datang," ucap Hyunra dengan suara pelan.

"Pangeran apanya? Cih," Chanrin berdecak sebal sambil menatap salah satu diantara 12 pemuda tampan itu. Begitu pula dengan Seungwoo yang juga menatap sebal salah satu diantara kedua belas pemuda tampan itu.

Sementara itu, Heerin hanya bisa menatap bingung teman-temannya dan kemudian kedua belas pemuda tadi. Ada temannya yang menatap mereka dengan kagum, ada yang biasa saja (tapi mungkin saja di dalamnya ia heboh), bahkan ada juga yang menatap mereka dengan sebal. Contohnya seperti Chanrin.

"Ahyoung. Mereka siapa?" tanya Heerin dengan suara pelantidak enak kalau sampai terdengar oleh orang lain di luar mejanya dan teman-temannyakepada Ahyoung yang memang duduknya paling dekat dengan Heerin sambil menatap 12 pemuda itu.

"Oh, mereka? Mereka sering dipanggil EXO oleh kebanyakan mahasiswa di kampus ini," terang Ahyoung. "Dan mereka semua itu bersaudara."

Heerin hanya merespon menganggukkan kepalanya walau dahinya agak berkerut sedikit. Bersaudara? Tapi wajah mereka tidak ada mirip-miripnya sama sekali antara satu sama lain, batin gadis bermarga Shin itu yang masih menatap 12 pemuda itu.

"Kau mau aku menjelaskan siapa saja mereka, Heerin?" tanya Daeyeon.

"Terserah kau, Daeyeon," jawab Heerin singkat.

"Baiklah. Dari yang duduk di pojok kiri itu namanya Sehun. Ia paling termuda diantara saudara-saudaranya yang lain. Dan tolong maklumi wajahnya yang datar itu," terang Daeyeon. Alis sebelah Heerin menaik saat ia menatap pemuda bernama Sehun itu. Wajahnya datar sekali seperti papan, komentar Heerin dalam hati. Bagaimanapun juga ia masih punya etika. Tidak mungkin 'kan mahasiswi baru sepertinya dengan terang-terangan mengatakan kalau wajah Sehun itu seperti papan? Itu sama saja cari mati.

"Datar begitu tetap tampan," gumam Ryujin yang disambut oleh Daeyeon yang memutar bola matanya bosan.

"Lalu di sebelah Sehun ada...... aigoo~ Tampan sekali dia hari ini~" pekik Daeyeon yang malah mengagumi sosok tampanatau imut?–yang duduk di sebelah Sehun. Sosok itu tengah memainkan rubix cube berukuran 3x3 dengan mahir.

"Sudah. Jangan pikirkan Daeyeon. Dia memang suka begitu kalau sudah melihat Luhan," terdengar suara Cheonsa yang spontan membuat Heerin menoleh kearah gadis bermata besar itu. "Seperti yang sudah kusebutkan tadi, namanya adalah Luhan. Ia keturunan Cina. Wajahnya boleh terlihat muda, tapi sebenarnya ia tertua kedua diantara saudara-saudaranya yang lain."

"Kukira umurnya tidak beda jauh dengan Sehun. Wajahnya manis sekali," ucap Heerin jujur.

"Tapi dia tidak suka dibilang manis atau imut," tambah Cheonsa. "Beralih kepada pemuda yang duduk di sebelah Luhan, yaitu...... Lay."

Heerin dapat menangkap dari pandangannya kalau Minhyun tersenyum mendengar nama 'Lay' disebut.

"Ia juga keturunan Cina seperti Luhan. Dan........ bisa dibilang ia ini agak datar. Tenang saja, ia ramah kok. Sama seperti Luhan," terang Cheonsa. "Malah mereka berdua ini bisa dibilang lebih ramah dari Sehun," tambah Cheonsa dengan suara yang dipelankan agar Ryujin tidak mendengar perkataannya.

"Yang itu biasa dipanggil D.O," ucap Cheonsa sambi menunjuk pemuda yang besar matanya berbanding 11 : 12 dengan mata Cheonsa. Kali ini Heerin dapat melihat sosok Songeul yang tersenyum mendengar kata 'D.O' disebut. "Orangnya cukup ramah. Dia ini orang yang tenang. Yah......... setidaknya itu yang bisa kujelaskan."

Heerin merespon dengan anggukan. Ini hanya aku saja atau wajah pemuda yang bernama D.O itu agak......... terselubung? tanya Heerin dalam hati.

"Kemudian pemuda dengan bentuk wajahnya kotak (?) itu adalah Chen," kata Cheonsa yang kali ini menunjuk pemuda yang tengah berbincang dengan D.O. "Dia cukup ramah kepada orang lain. Tapi aku tidak terlalu sifat aslinya seperti apa, jadi......"

"Dia itu menyebalkan," sahut Seungwoo yang kemudian meminum orange juice-nya. Heerin menoleh ke arah Seungwoo. "Setiap saat dia selalu menjahiliku, mengatakan kalau aku ini pendek seperti kurcaci. Mentang-mentang kami berdua satu fakultas dan dia yang meng-ospekku waktu itu dia langsung meledekku seenaknya saja," sungut Seungwoo kesal.

"Tapi anehnya hanya Seungwoo saja yang diledekinya seperti itu. Ia tidak pernah meledeki kami ataupun orang lain selain saudaranya. Padahal Seungwoo tidak pernah melakukan apapun kepada Chen," terang Songeul. Heerin mengangukkan kepalanya, pertanda ia mengerti.

"Kalau aku boleh bertanya kenapa dia dipanggil Chen? Padahal wajahnya terlihat seperti wajah orang Korea. Walau ada unsur Cina-nya juga," tanya Heerin.

"Kalau yang aku dengar waktu dia tinggal di Cina saat masih kecil, ia sering dipanggil Chen. Dan panggilan itu akhirnya digunakan sampai sekarang," jawab Cheonsa. "Lalu disebelah Chen ada---"

"Orang termenyebalkan sedunia," gumam Chanrin pelan dengan kesalnamun bisa terdengar oleh Heerin. Terlebih ketika pemuda yang sedang dibicarakan saat ini tengah melambaikan tangannya kearah Chanrin yang membuat Chanrin makin merengut kesal.

"Namanya Chanyeol. Dan yah, kau bisa lihat sendiri kalau Chanyeol tertarik kepada Chanrin eonni," jelas Cheonsa.

"YA!" teriak Chanrin kesal. Dimana hal itu sukses mmebuat Cheonsa dan Heerin–serta Chanyeol yang memandang dari kejauhan–terkikik pelan karena Chanrin.

"Arasseoarasseo. Kemudian kita beralih kepada, eumm........ euhh........" bukannya melanjutkan menjelaskan, kini Cheonsa terlihat seperti salah tingkah dengan pipi yang bersemu merah kala ia melihat seorang pemuda bermata sipit dan bertubuh lebih pendek dari Chanyeol yang terlihat bercanda ria bersama Chanyeol.

"Namanya Baekhyun. Dia ini senior-nya Cheonsa di jurusan seni musik," sahut Ryujin. "Dan Cheonsa mengaguminya, lho," lanjutnya yang diakhiri dengan evil smirk-nya.

"A-a......apa-apaan sih kau ini, Ryujin!" omel Cheonsa yang langsung memukul pelan lengan Ryujin–walau semburat merah masih menjalar di kedua pipinya. 

"Hahaha........ baiklah, aku akan mengganti topik. Kita beralih kepada pria berpipi seperti bakpau yang duduk di sebelah Baekhyun yang bernama Xiumin. Sama seperti kasusnya Chen, dia ini orang Korea namun katanya karena waktu pernah tinggal di Cina saat masih kecil ia sering dipanggil Xiumin. Makanya ia lebih sering dipangg---"

"Apa ada yang menyebut Xiumin?" sahut Chika dengan nada bersemangat. Wajahnya tampak cerah kala mendengar kata 'Xiumin' disebut.

"Tidak ada," jawab Ryujin datar–sepertinya ingin membalaskan dendam masalah 'visual' yang tadi yang sukses membuat Chika cemberut lagi. Tanpa gadis bermarga Park itu sadari, seseorang melihat Chika yang tengah cemberut itu sambil tersenyum lembut. Sungguh menggemaskan, batin orang itu.

"Kemudian ada....... uhuk, sang player berkulit 'eksotis'," kata Ryujin dengan nada agak menyindir–terutama di bagian kulit 'eksotis', sambil menunjuk pemuda yang berkulit sedikit lebih gelap dari saudara-saudaranya yang lain. "Namanya Kai. Dia ini sering dipanggil player bukan karena ia hobi bergonta-ganti pacar setiap hari atau apa, tapi karena ia sering menggoda setiap mahasiswi yang ada di kampus ini. Bahkan kudengar-dengar katanya dia pernah menggoda dosen wanita kampus ini," jelas Ryujin yang lebih terdengar seperti sedang menggosipkan pemuda bernama Kai itu.

"Hmmm........ terlihat dari wajahnya, sih," Heerin menyetujui penjelasan Ryujin barusan.

"Dia itu bukan player!" terdengar suara omelan Ahyoung yang sangat tidak setuju dengan perkataan Ryujin barusan.

"Sudahlah, Ahyoung. Dia itu memang player. Terima saja kenyataannya," tegur Ryujin dengan nada (sok) ketus–bagian dari pembalasan dendam juga. "Sudahlah, ganti topik saja. Kita beralih kepada......"

GLEK.

Ryujin meneguk ludahnya sejenak sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya yang terhenti tadi, ".....2 orang yang paling ditakuti diantara anggota EXO yang lain." Matanya menatap ngeri kepada 2 laki-laki yang menjadi pokok pembicaraan saat ini, dimana yang satu berambut hitam dan memiliki kantung di bawah matanya sehingga ia terlihat agak mengerikan dan yang satu lagi berambut pirang dan memiliki raut wajah yang dingin dan agak angkuh alias bitch face.

"Yang berambut hitam namanya Tao, sedangkan yang berambut pirang namanya Kris. Mereka berdua juga keturunan Cina, hanya saja Kris memiliki darah Kanada juga. Mereka berdua tidak begitu ramah kepada orang lain. Apalagi Tao jago wushu dan kudengar sifat Kris itu tidak beda jauh dari mafia."
Tampaknya Heerin juga menyetujui penjelasan Ryujin yang satu ini. Masalahnya kedua pemuda bernama Tao dan Kris itu memang terlihat menakutkan.

"Akhirnya selesai juga aku menjelaskan kedua orang itu. And at last but not least, kita punya dia," kata Ryujin sembari menunjuk kepada pemuda terakhir yang saat Heerin melihat pemuda itu langsung membelalakkan matanya.


Dia 'kan........






.........pemuda yang bertabrakkan denganku tadi pagi, batin Heerin saat melihat pemuda yang tadi pagi ia temui tengah membaca buku dengan tenang.


"Namanya Suho. Sifatnya sangatlah ramah–tapi yang lain juga ramah, sih," terang Ryujin singkat. Heerin terperangah mendengar nama pemuda itu. Ia langsung menatap pemuda tampan itu. Jadi namanya Suho, ya? Heerin jadi tersenyum sendiri memikirkan nama pemuda tampan yang tak sengaja bertabrakkan dengannya tadi pagi. Apalagi wajah pemuda bernama Suho itu mendeskripsikan namanya yang berarti guardian alias (malaikat) penjaga.

Tiba-tiba saja, Suho mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca menuju ke arah Heerin. Tampaknya ia menyadari kalau Heerin memandangnya dari tadi. Buktinya Suho langsung tersenyum ke arah Heerin yang sukses membuat Heerin membuang muka, mencoba menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna.

"Ia memang suka begitu, Heerin-ah. Ia selalu tersenyum ramah kepada siapa saja," tukas Hyunra.

Heerin hanya mengangguk–ia masih malu karena Suho menangkap basah dirinya yang tengah menatap pemuda itu yang sedang membaca buku. Kemudian gadis berkacamata dan berambut pendek itu teringat kalau setelah ini ia ada kelas lagi. Langsung saja Heerin beranjak dari duduknya.

"Heerin-ah. Eodi ganeungeoya?" tanya Chika yang agak kaget karena tiba-tiba Heerin beranjak dari duduknya.

"Setelah ini aku ada kelas lagi," jawab Heerin.

"Kami juga ada kelas lagi setelah ini," sahut Minhae dan Songeul serempak. Mereka tampak membereskan barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian mereka berdua segera beranjak dari tempat duduk mereka.

"Ah begitu....... Baiklah. Sampai bertemu lagi nanti~" seru Chika dan Hyunra serempak. Heerin, Minhae, dan Songeul tersenyum kemudian mengangguk.

"Ne. Annyeong~" setelah berpamitan, ketiga gadis itu berjalan meninggalkan kantin menuju kelas mereka masing-masing.


-END of Chapter 2-


============================================================


Chwesonghabnida: aku minta maaf (formal)
Agasshi: nona
Cheogiyo: hei, tunggu (kayaknya)
Naneun/nae .............. imnida: Namaku ...........
Neo ireumeun mwoeyo?: Namamu siapa?
Jeongmalyo?: Benarkah?
Manaseo bangapseubnida: Senang bertemu denganmu (formal)
Bangapta: senang bertemu denganmu (informal)
Neomu kwiyeowo: Imut sekali
Hajima: sudah hentikan
Nado bangaweoyo: senang juga bertemu denganmu
Eodi ganeungeoya?: kau mau kemana?



*************


What a long chapter XD

Akhirnya bisa menyelesaikan chapter 2. Sempat ada hambatan karena buku tulis saya yang berisi fanfic ini sempat terbawa oleh teman saya. Namun akhirnya bisa dipindahkan dan dikembangkan lebih baik lagi.

Mohon maaf kalau misalnya chapter 2 tidak memuaskan *membungkukkan badan 90 derajat* Terus juga buat yang ngerasa dirinya adalah tokoh di fanfic ini (XDD) maaf kalo misalnya saya bikin kalian OOC disini *formal bow ala Korean*

If you want, mind to review? ^^

2 comments:

Anonymous said...

Aaaaaa Fiqih, keren banget ;A;
pokoknya ditunggu chapter 3 nya ASAP :3

-Ifa

Fiqih said...

Makasih ya ifa hehehehehe :D chapter 3 sedang dalam proses kok (y)

Post a Comment

 
;